Jakarta –
Read More : Ekspor RI ke Negara Anggota BRICS Tembus US$ 84,37 Miliar
Kehadiran gula pasir bukanlah hal yang umum di toko-toko saat ini. Kesenjangan tersebut terjadi sejak Idul Fitri dan beberapa hari lalu. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) pun buka suara soal penyebab kesenjangan tersebut.
Ketua Aprindo Roy Nicholas Mandey mengatakan, kelangkaan ini terjadi akibat libur lebaran, termasuk pada penjual gula pasir. Jadi ada keterlambatan pengiriman ke pengecer saat ini.
Bahkan, pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan Denmark (Bapanas) telah menurunkan Harga Pemerintah (HAP) gula pasir menjadi Rp 17.500/Kg. Hal ini untuk mempercepat harga pasokan gula di toko-toko modern.
“Kalau kita libur tanggal 5 April itu libur lebaran. Jadi rutin bersih-bersih kanal atau pengiriman gula, semuanya libur, ditunda dulu,” jelasnya saat ditemui Kementerian Perdagangan. , Jakarta Pusat, pada Kamis. 25.4/2024).
Sebelum terjadi penundaan distribusi barang, stok gula melimpah karena harga jual dari pabrik atau supplier sudah di atas HAP. Akibatnya penjual sulit memasok ke penjual, dan penjual tidak bisa membeli karena akan merugi.
Yang benar hanya dua hal, pertama jika harga beli lebih tinggi dari harga jual maka akan terjadi kekurangan barang, artinya harga acuan harus diturunkan agar harga beli lebih rendah dari harga jual. Harganya mau beli harga mahal, harga belinya tinggi, karena “Jualannya PANAS atau referensi, itu yang bikin kurang,” jelasnya.
Roy menilai pasokan gula di toko modern mulai berkurang. “Jadi kalau dikatakan tidak lazim, itu karena perbedaan harga jual dan beli,” imbuhnya.
Sebelumnya, Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mengungkapkan konsumsi gula dalam negeri semakin menurun. Hal ini pula yang menjadi penyebab tingginya harga gula saat ini.
Ketersediaan pasokan gula dalam negeri diperkirakan hanya cukup untuk bulan Mei, artinya sangat kecil, kata pakar Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Yadi Yusriadi kepada detikcom, Sabtu (20/4/2024).
Namun, ia yakin pasokan akan kembali mencukupi setelah Food ID mendatangkan gula konsumsi sebanyak 296.000 ton. Selain itu, pabrik gula mulai melakukan penggilingan pada bulan Mei.
“Sehingga diperkirakan sampai awal Juni ketersediaan gulanya cukup, yang nantinya akan dipadukan dengan gula produksi pabrik gula dalam negeri,” lanjutnya. (siapa pun)