Jakarta –
Read More : Daftar 10 Orang Terkaya di Dunia Oktober 2024 Versi Forbes
Bisnis jual beli barang bekas jaman dulu (jadul) merupakan salah satu jenis bisnis yang terbukti sangat menjanjikan. Karena hasil usahanya, banyak pedagang yang mempunyai cukup uang untuk berangkat haji dan umrah.
Seorang kolektor barang antik sekaligus pengelola pasar barang antik di Jl Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, bernama Tamim, mengaku bisnis ini di masa lalu berpotensi menghasilkan pendapatan yang sangat besar. Meski demikian, ia enggan membeberkan lebih lanjut konversi apa saja yang diterimanya.
Dia hanya menjelaskan, barang-barang lama tersebut dijual melalui proses negosiasi dengan pembeli. Jadi semakin besar selisih harga jual dari saat mereka membeli produk tersebut, maka semakin besar pula omzet atau keuntungan yang mereka peroleh.
“(Besaran omzetnya) tergantung apa yang bisa kita jual kan. Kalau bisa lebih banyak, untung lebih banyak kan,” kata Tamim saat ditemui detikcom di Pasar Antik Jalan Surabaya, Rabu (21/1/2017). ). ). 8/2024).
“Dulu bagus karena kita bisa mematok harga tinggi, tapi sekarang masyarakat bisa membandingkan secara online sehingga harganya tidak terlalu mahal,” ujarnya.
Tamim mengatakan, barang yang dijual bernilai puluhan ribu hingga jutaan rupiah tergantung jenis, modal pembelian dan perbaikan, serta kualitas dan umur barang.
Yang tertinggi, dia mengaku menjual beberapa barang dengan total nilai sekitar Rp 400 juta dalam satu kali transaksi. Selain itu, ia juga mengaku barang bekas yang dijualnya sudah beberapa kali dibeli.
“Tingkat paling tinggi saya jual barang sampai puluhan juta. Tapi dulu saya juga jual sampai 400 juta rubel. Saat itu ada beberapa barang yang dibeli,” ujarnya.
“Dulu beberapa kali dibeli. Seperti saat krisis keuangan (1998), dolar menggila, bank dan turis banyak membeli, karena harga barang menjadi lebih murah. “- Tamim menjelaskan lagi.
Dari berbagai penghasilan yang diterimanya, Temimi memperoleh cukup uang untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Menurut dia, keuntungan serupa juga didapat oleh pengepul lain di pasar lama Jalan Surabaya.
Alhamdulillah saya bisa berangkat haji dan umrah. Haji satu kali dan umrah tiga kali. Banyak pedagang lain yang juga mengambil banyak saat itu, kata Temimi.
“Yang lainnya sama (menghasilkan banyak uang dari barang bekas lama). Tergantung orangnya saja, siapa yang bisa berhemat, tidak apa-apa. “, jelasnya.
Namun menurutnya, kondisi bisnis koleksi produk-produk lama sudah mulai terpuruk, terutama pascapandemi Covid-19. Sebab sebelum Covid, menurut Tamim, banyak wisatawan yang datang ke pasar antik untuk membeli barang.
“Sebelum pandemi, bisa datang enam bus sekaligus, delapan bus, sekali datang belasan bus, ramai. Hanya setelah pandemi, lebih sedikit orang yang datang. Ada beberapa, tapi satu atau dua,” jelasnya.
“(Saat ini) ada beberapa, hanya saja tidak sesibuk dulu. Pasca Covid kita menurun, pasca Covid turun saja. Ya, sekarang dia mau makan seperti itu saja,” kata Tamim.
Karena itu, Tamim mengakui, omzet kolektor barang antik di kawasan itu anjlok hingga lebih dari 50%. Syukurlah, situasi ini tidak bertambah buruk berkat banyaknya barang-barang jadul yang bisa dijual melalui e-commerce alias toko online.
“Wah kalau dibandingkan dulu (konversi turun) kemungkinannya 50% lebih besar. Tapi sekarang masih ada, hanya wisatawan yang dulu mampir minimal satu atau dua kali,” jelas Tamim.
Tonton Video: Menjelajahi Peluang Bisnis Kartun Bali di Tengah Gencarnya AI
(fdl/fdl)