Jakarta –
Read More : Kecelakaan Maut Di Tol Cipali Renggut 5 Nyawa
Proses merger antara XL Axiata dan Smartfren terus berlanjut. Satu pertanyaan yang muncul adalah apa yang akan terjadi pada frekuensi yang dikontrol kedua operator tersebut setelah merger?
Merza Fachys, Presiden Direktur Smartfren, mengulas masalah ini. Ditegaskannya, spektrum frekuensi sepenuhnya berada di bawah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkomdigi).
“Semua spektrum itu milik Menkominfo. Jadi tidak ada aturan yang mengatakan harus dikembalikan atau tidak dikembalikan atau apa pun,” ujarnya pada 2024. presentasi kegiatan perusahaan di kantor “Smartfren” di Jakarta. Jumat (20/12/2024).
Lebih lanjut dia menjelaskan, Smartfren dan XL telah mengajukan proposal rencana bisnis kepada Komdigi untuk rencana merger, termasuk rencana penggunaan frekuensi.
“Dalam surat yang kami kirimkan ke Komdigi sebenarnya kami mengajukan proposal rencana bisnis bahwa kami merencanakan apa yang kami inginkan dalam perjalanan ini (fusion-red). Apa yang kita transfer, rencana bisnis apa yang ingin kita terapkan pada 13, tahun depan 5,” jelasnya.
Namun, dia mengakui usulan tersebut masih bersifat umum dan belum rinci. Setelahnya, tim evaluasi Komdigi akan melakukan evaluasi dan diskusi lebih lanjut dengan XL dan Smartfren untuk membahas detail rencana bisnis tersebut.
“Tapi tentunya semuanya masih dalam bentuk yang sangat matang (red). Nanti kalau tim evaluasi Kominfo mulai melakukan evaluasi, tentu akan kita bahas. Nanti akan kita bahas lebih detail. Dan tentunya, secara paralel, tim antara XL dan Smartfren juga bekerja dengan detail – detail,” jelas Merza.
Hasil penilaian ini akan menentukan apakah seluruh frekuensi yang dimiliki XL dan Smartfren saat ini akan dimanfaatkan secara optimal sesuai rencana bisnis yang diusulkan.
Evaluasi ini nanti akan dilihat apakah semua frekuensi ini sudah optimal sesuai dengan rencana bisnis yang ada. Kalau Komdigi merasakan itu sudah sangat optimal dan mungkin tidak ada yang perlu diambil, kata bos Smartfren itu.
Sebaliknya, jika Komdigi menilai frekuensi yang ada terlalu tinggi dan tidak dimanfaatkan secara maksimal, maka ada kemungkinan frekuensi tersebut akan ditarik.
“Tapi kalau kurang maksimal mungkin diambil sebagian besar. Tapi kalau kurang maksimal diberikan? Ada mekanismenya berupa lelang,” ujarnya.
Saat ini XL dan Smartfren masih menunggu hasil evaluasi dari Komdigi. Menurut dia, proses evaluasi ini sangat bergantung pada seberapa detail pembahasan Komdigi dengan tim perencanaan bisnis kedua operator.
“Yah, itu semua tergantung seberapa detail Komdigi berdiskusi dengan tim rencana bisnis,” pungkas Merza. Tonton Video Smartfren berharap bisa bersaing setelah merger: Anda tidak boleh kehilangan akal (afr/afr)