Jakarta –
Read More : Peneliti Temukan Infeksi COVID-19 Bikin Otak Menua 20 Tahun, Apa yang Terjadi?
Setelah pandemi COVID-19, banyak negara, termasuk Indonesia, berupaya mempersiapkan diri menghadapi penyakit baru di masa depan. Hal ini dapat mengurangi dampak penyakit di masa depan dan mengurangi jumlah kematian.
Ahli epidemiologi Wiku Adisasmito mengatakan masyarakat di banyak negara khawatir dengan epidemi baru ini. Namun hal ini sulit diprediksi, namun banyak negara yang bersiap menghadapinya.
“Mungkinkah epidemi berikutnya akan terjadi? Belum ada satu pun orang di dunia ini yang mengetahui secara pasti. Tapi banyak negara dan banyak masyarakat di dunia yang khawatir dengan epidemi tersebut (lagi),” kata Wiku saat ditemui di Jakarta Pusat, Rabu ( 8/5/2 -24).
Wiku juga mengatakan, untuk menghindari hal terburuk, pemerintah Indonesia perlu mengetahuinya sejak dini. Menurutnya, jika dunia mengenali penyakit sejak dini hingga menimbulkan epidemi, maka penyebarannya akan sulit.
“Jika Anda berhasil mendeteksi tanda-tanda awal penyakit epidemi, maka penyakit ini akan menjadi jauh lebih sulit.
Pengalaman pandemi COVID-19, lanjut Wiku, membuat masyarakat dunia tidak mau mendengarkan. Dikombinasikan dengan kerja sama antar negara, hal ini dapat menjadi langkah yang berguna jika dunia menghadapi pandemi lain di masa depan.
“Kalau kita tahu (pandemi penyakit) bisa dideteksi, kita bisa lebih cepat mengobatinya dan melakukan hal-hal lain. Jadi kemungkinan sakitnya kecil,” kata Wiku.
Di sisi lain, hal ini juga menjadi tantangan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Menurut Wiku, kemampuan melihat masih rendah di negara berkembang dibandingkan negara maju.
“Penemuan ini yang paling penting (dalam melawan epidemi baru), kita bisa tahu dipikirkan atau tidak, apakah penemuan alami atau tidak. Kemarin kita belum tahu tentang COVID-19,” kata Wiku.
Jadi kita harus siap, yang pertama pencarian, itu yang terpenting. Nanti dari situ semua ditemukan, tutupnya. Saksikan video “Pemerintah diimbau memberikan perhatian khusus terhadap wabah virus Nipah” (Devandra Abi Prasetyo/kna)