Jakarta –
Read More : Kampung Anyaman di Tasikmalaya, Produknya Diminati Pasar Malaysia-Jepang
Akan ada lagi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata yang akan dibuat yaitu KEK Bira Takabonerate. Apa yang bisa terjadi di masa depan?
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan Badan Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) untuk bekerjasama mengembangkan KEK Bira Takabonerate ditandatangani pada Kamis (14/3).
Oleh karena itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Sulsel) Provinsi Sulawesi Selatan Muhammad Arafah Pallu didampingi Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sulsel Andy Arief Bulu dan jajarannya menggelar pertemuan dengan pihak Pariwisata Nasional. Pakar Strategi, Taufan Rahmadi.
Kedatangannya guna membahas rencana pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bira Takabonerate yang harus diberikan pada September 2024.
Berdasarkan pengalaman Taufan saat menjadi anggota Tim Percepatan KEK Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ada kurang lebih delapan hal yang harus diperhatikan Pemprov Sulsel dalam rangka membangun KEK Pariwisata.
Pertama, melihat daerah harus diatur, kedua, perencanaan yang komprehensif, ketiga menjamin kerja sama dengan swasta, dan keempat, peraturan daerah harus mendukung, kata Taufan.
Kelima, menurut Taufan, harus disiapkan sumber daya manusianya, keenam, perlu juga pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Nah poin ketujuh, pemberdayaan masyarakat harus dilakukan. Terakhir, promosi dan pemasaran harus tepat.
“Dengan melihat delapan poin tersebut, pemerintah daerah dapat membangun KEK pariwisata yang sukses dan berkelanjutan, yang akan memberikan dukungan baik bagi perekonomian daerah dan nasional serta meningkatkan kualitas masyarakat,” jelas Taufan.
KEK Bira Takabonerate yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya akan dikembangkan pemerintah dengan konsep wisata yang sama dengan Maladewa alias Maladewa. Misalnya Kepulauan Selayar yang menjadi daya tarik wisata utama di kawasan tersebut.
“KEK Bira Takabonerate dengan wisata bahari bisa menjadi sangat penting. Akomodasi juga bisa dilakukan seperti Maladewa dan banyak negara lain yang terkenal dengan wisata pantainya,” ujarnya.
Taufan mengakui Wilayah Sulawesi Selatan mempunyai posisi strategis sebagai pintu gerbang Indonesia bagian timur yang memiliki kebudayaan dan budaya yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata.
Misalnya Kabupaten Bulukumba yang merupakan sentra industri pinus, sedangkan Kabupaten Selayar memiliki pulau atol terbesar ketiga di dunia dan merupakan cagar biosfer yang telah diakui UNESCO,” tutupnya. Saksikan video “Melihat keindahan alam bawah laut di terumbu karang Mola-Mola Sulawesi Selatan” (wsw/wsw)