Jakarta –
Read More : Perang Dagang AS-China, The Yudhoyono Institute Kasih Rekomendasi ke Pemerintah
Dunia mulai menghadapi krisis pangan global, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina, dan banyak negara telah memperketat kebijakan perdagangan dengan melarang ekspor beberapa jenis makanan.
Mengutip data Pembaruan Keamanan Pangan Bank Dunia pada September 2024, 16 negara menerapkan 22 pembatasan ekspor pangan, dan 8 negara menerapkan 15 pembatasan ekspor.
โKrisis pangan global telah diperburuk dengan meningkatnya pembatasan perdagangan pangan dan pupuk, yang diterapkan sebagian untuk meningkatkan pasokan domestik dan menurunkan harga. Pada September 2024, 16 negara telah menerapkan 22 pembatasan ekspor pangan, mengutip Bank Dunia ( 7/10/2024) Dikatakan: 8 negara menerapkan 15 pembatasan ekspor.
Sementara itu, menurut laporan Euromonitor mengenai industri agrokimia di Indonesia, kebutuhan bahan baku pestisida Indonesia relatif tinggi. Antara tahun 2019 hingga 2023, nilai impor bahan baku pestisida terutama metil, karbafuran, karbosporin, karbil, dan karbonat produk seperti Butyl Phenyl Methyl Carbonate (BPMC) akan tumbuh 2,8% mencapai Rp 8 triliun pada tahun 2023.
Dari tahun 2021 hingga 2022, harga bahan baku akan naik karena gangguan rantai pasokan dan meningkatnya biaya produksi dan logistik karena kapasitas produksi belum sepenuhnya pulih dari pandemi COVID-19.
Senada dengan laporan “Ogtan Raw Materials” dan “Euro Economy Newspaper” disebutkan bahwa nilai impor bahan baku pupuk di Indonesia meningkat sebesar 7,4% selama periode peninjauan, dan nilainya mencapai 30,2 triliun 202 miliar pada tahun 2023, dan antara 2021 dan -2021. Harga mengalami kenaikan seiring dengan produksi terbaik dan prioritas untuk memenuhi permintaan lokal Namun di negara produsen pupuk seperti Tiongkok, Kanada, Rusia, Belarusia, dan Jerman, harga pupuk turun pada tahun 2023 akibat penurunan permintaan akibat El Niรฑo.
Menurut Indeks Ketahanan Pangan Global tahun 2022, Indonesia memiliki skor yang baik dalam hal keterjangkauan pangan, namun masih ada pekerjaan yang harus dilakukan dalam hal ketersediaan pangan untuk berbagai indikator, termasuk kuantitas pangan, penelitian dan pengembangan, serta akses terhadap produk pertanian.
Faktor yang mengkhawatirkan adalah kesediaan industri lokal untuk memenuhi besarnya permintaan produk pertanian.
Salah satu perusahaan pertanian nasional, PT Delta Giri Wacana (DGW Group), berupaya memperkuat operasionalnya dengan meningkatkan produktivitas dan kapasitas. Guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor dan meningkatkan kontribusi bauran bahan baku non-impor, DGW Group membangun pabrik karbon berkapasitas 3.300 ton per tahun pada tiga tahun pertama, meningkat menjadi 7.000 ton per tahun.
Hal ini tidak hanya memenuhi kebutuhan produksi DGW Group dalam negeri, namun juga memenuhi kebutuhan pasar pertanian lokal dan membuka peluang ekspor.
Selain itu di bidang pupuk, pemerintah Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Presiden Joko Widodo baru-baru ini meresmikan pabrik amonium nitrat. Fasilitas produksi ini mengurangi impor amonium nitrat hingga 21% dari total permintaan industri.
Upaya DGW Group dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor dilakukan melalui kemampuan DGW Group dalam memperoleh komponen lokal (TKDN) yang tinggi pada produk pertanian. Sehingga sejalan dengan upaya bisnis DGW Group dalam mengoptimalkan pasar dalam negeri. (rd/rir)