Jakarta –
Read More : FFWS SEA 2024 Fall: Tim Thailand Masih Menjadi Momok Tim RI, Tapi…
Jagat Coin Quest tersebar di banyak taman di Jakarta. Aktivitas berburu mudah diamati, bahkan di kawasan sibuk.
Koin disimpan di beberapa tempat umum, mulai dari jalan hingga taman. Ini adalah aplikasi Jagat yang meluncurkan “Perburuan Harta Karun”.
Dalam informasi yang ada di akun Instagram @jagatapp_id, mereka menyebutkan potongan tersebut tidak diletakkan di tanah, terendam air, disembunyikan di balik batu bata, atau di tempat yang perlu dibuka. Ruangan itu juga tidak berada di area yang tidak ada tanda-tanda masuknya.
“Ingat selalu untuk menjaga koin dengan hati-hati dan tidak merusak lingkungan atau mengganggu warga sekitar atau pedagang terdekat,” demikian isi informasi akun tersebut.
Namun, pemburu mengabaikan batasan tersebut. Salah satunya terjadi di kawasan Gelora Bung Karno (GBK).
Pusat Pengelolaan Kompleks Olahraga Bang Karno (PPKGBK) pun mengeluarkan pernyataan setelah fasilitas di kawasan GBK dirusak oleh para pemburu koin.
CEO mengatakan: “Kami sangat menyayangkan tindakan vandalisme yang dilakukan oleh beberapa pengguna aplikasi berburu koin di kawasan GBK. Perilaku perusakan fasilitas umum tersebut mengganggu ketertiban dan mencoreng citra GBK sebagai ikon olahraga dan hiburan. PPKGBK, Hadi Salastia, dalam keterangan resmi, Senin (13/1/2025).
Menanggapi pernyataan tersebut, Jagat App Information menulis bahwa tidak ada lagi koin yang didistribusikan di wilayah GBK. Meskipun aplikasi masih berisi poin koin GBK, namun koin tersebut tidak dapat ditukarkan lagi.
Bagaimana dengan kawasan lain yang ditandai sebagai lokasi berburu koin?
Untuk mengetahuinya, detikTravel menelusuri beberapa tempat umum berbayar di Jakarta pada Selasa (14/1).
Dapat dipastikan tidak ada koin Jagat lain yang disimpan di kawasan ini. PPGBK melarang keras kegiatan pencarian uang logam yang mengakibatkan rusaknya batu paving, taman bahkan lampu.
“Pada Senin sore masih ada laporan ada dua orang yang melakukan penggeledahan di kawasan GBK (dekat gedung pencakar langit dan taman),” kata Direktur Senior PPKGK Hadi Selestia kepada detikTravel melalui pesan singkat.
Kini setelah diumumkannya aplikasi GBK dan Jagat, tidak ada lagi pencari koin di kawasan GBK.
Mirip dengan kawasan GBK, taman kawasan Tibet menghadirkan tantangan karena banyak pencari koin berbondong-bondong ke ecopark Tibet. Untuk mengantisipasi kerusakan taman, Dinas Pertamanan dan Kehutanan Kota (Distamhut) DKI Jakarta juga memasang pembatas di banyak bagian taman.
“Sebelumnya (memantau tren perburuan koin), kami sudah mengantisipasinya. Silakan bermain tapi jangan merusak taman,” kata Baio Meghantara, Kepala Destamut DKI Jakarta, seperti dikutip detikNews.SCBD.
Di SCBD, kawasan perkantoran, bisnis dan komersial di jantung kota Jakarta, koin Jagat juga disimpan di beberapa lokasi. Pantauan detikTravel, hingga Selasa (14/1), kawasan tersebut tidak terlalu ramai dikunjungi pencari koin dibandingkan kawasan lain seperti taman di kawasan Jakarta.
Di taman ini detikTravel bertemu dengan para peneliti koin Jagat, termasuk Lentang. Ia bersama teman-temannya sengaja datang ke Taman Langsat untuk mencari koin Jagat, mulai mencarinya di sekitar pinggir taman, di bawah pohon bahkan di bawah mainan anak-anak.
“Ada tiga (koin Jagat), ada emas. (Cara mencarinya) Dapat token, tapi harus bayar premi Rp 70.000.” ucap Lentang sambil memegang keris di tangannya. Taman literasi
Taman yang berada di kawasan Blok M ini juga tak kalah ramai dikunjungi oleh para pemburu koin Jagat, meski agak tersembunyi dari pengunjung yang sebenarnya berniat nongkrong di taman tersebut.
Namun kelakuan para pencari koin tidak bisa disembunyikan, yaitu melepaskan ponsel dari tangan, mata tidak lepas dari ponsel dan mencari sesuatu di sekitar, serta tangan sering menyentuh dan menyentuh area taman.
Situasi ini sering terlihat akhir-akhir ini. Bukan tanpa alasan karena harga koin Jagat tidaklah besar, yang terbesar hingga $100 juta. Tonton Video “Video: GBK jamin tidak ada lagi koin Jagat di wilayahnya” (upd/fem)