Jakarta –

Read More : Netizen Ramai Bahas Patrick Kluivert Berdarah Indonesia Jalur Suriname

Upaya Starlink yang menyasar penjual di Indonesia dapat membantu menyeimbangkan internet, yang sejauh ini telah berjalan dengan baik. Namun layanan internet berbasis satelit rentan.

Dampak yang dimaksud berkaitan dengan udara atau cuaca. Misalnya, badai matahari yang melanda Bumi baru-baru ini juga memengaruhi kinerja Starlink karena berada di orbit rendah Bumi (LEO).

Bahkan, CEO SpaceX Elon Musk membeberkan dampak badai matahari yang hampir menyebabkan Starlink meledak. Perusahaan dengan cepat menyelesaikan masalah tersebut dan layanannya dinyatakan aman.

Kemudahan intervensi

Inspektur Telekomunikasi ITB Agung Harsoyo mengatakan komunikasi satelit Starlink untuk pelanggan menggunakan frekuensi pada pita KU. Secara alami, frekuensi tersebut disebabkan oleh uap air sehingga hujan dapat mengganggu komunikasi. Karena permasalahan alam tersebut mempengaruhi kemampuan dan kualitas Starlink.

Pak Agung menjelaskan bahwa setiap teknologi komunikasi mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Komunikasi non-terestrial seperti Starlink berpotensi menyediakan berbagai layanan di wilayah yang sulit diakses dengan layanan terestrial, seperti fiber to the home (FTTH) dan layanan seluler.

Starlink yang terletak di ketinggian lebih dari 550 kilometer di atas permukaan bumi dan menggunakan komunikasi frekuensi dan infra merah akan mengalami kendala saat terjadi gangguan alam seperti badai matahari dan hujan lebat, tulis Agung dalam suratnya. , Rabu (15/5/2024).

Selain itu, badai matahari dapat terjadi secara terus menerus dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga berpotensi berdampak signifikan terhadap layanan Starlink. Ini sangat berbahaya, kata Agung. , Ditambahkan. . Layanan internet Starlink mahal

Masalah lain dengan Starlink adalah teknologi dan peluncuran satelit mahal, namun biaya tersebut diimbangi oleh layanan broadband. Misalnya untuk layanan residensial, Starlink mematok harga Rp 750.000. Itu belum termasuk biaya pembelian yang sebesar Rp 7,8 juta.

Agung mengatakan biayanya sangat berbeda jika dibandingkan dengan biaya layanan operator FTTH di Indonesia. Misalnya saja produk IndiHome FTTH yang dibanderol Rp 220.000 per bulan untuk kecepatan 30 Mbps.

Sedangkan layanan Telkomsel Orbit dengan alokasi 100 GB dibanderol Rp 131.000. Sedangkan layanan MyRepublic dengan kecepatan 50 Mbps dibandrol dengan harga Rp 200.000. Untuk kecepatan 100 Mbps dari supplier Sinarmas dibanderol Rp 300.000.

“Kami tidak tahu apakah masyarakat umum yang sudah lebih memilih FTTH atau seluler yang lebih murah akan dengan mudah beralih ke layanan Starlink yang lebih mahal. Mungkin hanya konsumen di daerah terpencil dengan daerah sulit yang akan membeli produk Starlink. Tidak ada layanan FTTH atau seluler. belum,” kata Agung.

Keunggulan lain internet kabel ini dibandingkan Starlink adalah kapasitas dan kecepatannya lebih baik, lanjut Agung. Kapasitas dan kecepatan serat juga diukur dalam Gbps.

Bahkan, kecepatan Starlink yang diusulkan saat ini bisa mencapai 200 Mbps. Tapi prinsip komunikasi nirkabel adalah kecepatan lebih baik bila pengguna lebih sedikit, lanjut Agung.

“Tapi kalau penggunanya banyak, tentu saja kecepatan dan kualitasnya akan menurun, karena prinsipnya nirkabel adalah berbagi,” tutupnya. Saksikan video “Uji Profisiensi, Starlink Akan Diuji di IKN” (agt/fay).

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *