Jakarta –
Read More : XL Axiata dan Smartfren Merger Jadi XLSmart, Seberapa Kuat?
Peneliti keamanan di Uruguay telah menemukan celah baru yang memungkinkan peretas mencuri informasi dari korbannya.
Dalam metode yang diketahui, peretas menggunakan kecerdasan buatan untuk mencegat radiasi elektromagnetik dari kabel antarmuka multimedia definisi tinggi (HDMI) yang menghubungkan perangkat ke monitor komputer. Ya, proses ini bisa dilakukan dengan menggunakan antena.
Radiasi elektromagnetik yang dicegat tersebut dapat digunakan untuk menampilkan gambar di layar korban, yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk mencuri password korban.
Peneliti mengatakan bahwa serangan seperti itu telah digunakan sebelumnya. Namun, mereka percaya bahwa pengguna komputer rumahan tidak perlu khawatir dengan serangan ini, karena kemungkinan besar serangan ini terjadi di dalam pemerintahan atau antar bisnis.
Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk melakukan kejahatan jenis ini. Cara lainnya adalah dengan menggunakan antena yang diletakkan di luar ruangan untuk menghalangi radiasi dari kabel HDMI.
Badan intelijen AS, NSA dan NATO, menyebutnya sebagai serangan TEMPEST. NSA telah membuat pedoman untuk mencegah radiasi elektromagnetik tersebut, demikian dilansir detikINET dari Techspot, Jumat (15/8/2024).
Tentu saja sinyal video sudah ada sejak lama. Namun prosesnya lebih mudah di era video analog. Transmisi video digital, seperti transmisi video definisi tinggi melalui kabel HDMI, lebih kompleks.
Meski sulit, proses ini bisa dilakukan. Menurut Federico Larroca dari Universitas Republik Uruguay, ia dan timnya berhasil mengembangkan kecerdasan buatan yang mampu mereproduksi sinyal digital yang dikirimkan melalui kabel HDMI dari jarak beberapa meter.
Jika seorang hacker menggunakan metode yang dikembangkan oleh Larroca dan timnya, mereka dapat “melihat” ketika kata sandi dimasukkan di layar komputer, atau mereka dapat mengirimkan kata sandi, akses ke perbankan online atau hal lainnya. .
Proses ini bisa dilakukan dari luar rumah dengan menggunakan antena, atau bisa juga dengan meletakkan benda kecil di dalam rumah untuk menghalangi sinyal, kemudian bisa diterima secara fisik oleh majikan.
Model AI ini dilatih menggunakan sinyal yang ditangkap dan kemudian dibandingkan dengan versi aslinya. Mereka kemudian menggunakan perangkat lunak text-to-speech video tersebut untuk membandingkannya dengan tangkapan layar asli.
Selama pengujian, proses peering ini mengalami 30% kesalahan pembacaan teks. Menurut peneliti, tingkat kesalahannya sangat rendah, karena teks kesalahan dapat dibaca dengan benar oleh manusia. Tonton video “Pakar mengatakan keamanan siber dapat dipelajari dari peretas” (asj/asj)