Jakarta –
Read More : Capai Usia 140 Tahun, Tranmere Rovers Rilis Jersey Bersejarah
Memiliki teman atau rekan kerja yang suka menggoda terkadang bisa membuat darah Anda mendidih. Sekalipun kita mencoba memberi tahu mereka apa yang benar, mereka tetap berpegang pada argumen mereka, meskipun argumen mereka salah atau tidak berdasar.
Ternyata ada alasan ilmiah dibalik hal tersebut. Para peneliti menyebutnya sebagai “kekeliruan kecukupan informasi”.
“Otak kita sangat yakin bahwa mereka dapat mengambil kesimpulan yang kuat dengan informasi yang sangat sedikit,” kata Angus Fletcher, seorang profesor bahasa Inggris di Ohio State University yang ikut menulis penelitian tersebut.
Fletcher bekerja sama dengan dua peneliti psikologi untuk mencoba mengukur bagaimana orang membuat penilaian terhadap suatu masalah atau seberapa yakin orang terhadap informasi yang mereka miliki — meskipun itu bukan keseluruhan cerita.
Survei tersebut melibatkan 1.261 orang Amerika yang berpartisipasi secara online. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok dan membacakan cerita tentang sekolah fiksi yang kehabisan air.
Satu kelompok membaca artikel yang menjelaskan mengapa sebuah sekolah harus dihubungkan dengan sekolah lain yang memiliki cukup air; Kelompok pasal kedua hanya memberikan alasan untuk menahan diri dan berharap akan ditemukan solusi lain; Dan kelompok ketiga yang bertanggung jawab mengawasi membaca semua pasal integrasi sekolah dan kelangsungan pemisahan.
Hasilnya menunjukkan bahwa kedua kelompok yang membaca separuh cerita, baik argumen pro-merger maupun argumen anti-merger, masih yakin bahwa mereka memiliki cukup informasi untuk mengambil keputusan yang baik. Banyak di antara mereka yang menyatakan akan mengikuti rekomendasi artikel yang mereka baca.
“Mereka yang hanya memiliki separuh informasi sebenarnya lebih percaya diri dalam keputusan mereka untuk bergabung atau tetap berbeda dibandingkan mereka yang mengetahui keseluruhan cerita,” kata Fletcher.
“Mereka memiliki keyakinan penuh bahwa keputusan mereka adalah keputusan yang tepat, meskipun mereka tidak memiliki semua informasi,” ujarnya.
Selain itu, peserta yang memiliki separuh informasi mengatakan mereka mengira sebagian besar orang akan mengambil keputusan yang sama seperti mereka.
Temuan ini melengkapi penelitian tentang apa yang disebut realisme, keyakinan masyarakat bahwa persepsi mereka terhadap sesuatu adalah benar secara obyektif. Penelitian tentang realisme naif sering kali berfokus pada bagaimana orang memiliki persepsi berbeda terhadap suatu hal yang sama.
Saksikan video “Video: Kasus DBD Nasional Meningkat di 2024, Jabar Makin Banyak” (kna/kna)