Jakarta —

Read More : Menteri Keuangan Umumkan Apbn 2025 Fokus Ke Infrastruktur

Konflik internasional, seperti perang Rusia-Ukraina, telah berdampak signifikan terhadap lanskap keamanan siber. Akibat konflik ini, serangan siber Rusia terhadap beberapa negara di kawasan Asia-Pasifik mengalami penurunan.

Hal ini terungkap dalam Laporan Keamanan Informasi Insights 2024 tentang Lanskap Ancaman Siber. Laporan ini mencakup 6 negara Asia Pasifik yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Tiongkok, dan Australia.

“Kami melihat dari laporan Ensign tahun lalu, jadi ketika Rusia berperang, kami melihat penurunan signifikan peretas Rusia di wilayah kami karena mereka fokus pada negara selama perang. Pelaku kriminal, peretas fokus menyerang Ukraina,” dia dikatakan. . Penasihat Keamanan Informasi Indonesia Aditya Nugraputra pada media briefing di Jakarta Rabu (15/5/2024) lalu.

Menurut Aditya, hal ini karena perang siber merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perang fisik. Dia mencontohkan peretas Rusia yang melumpuhkan infrastruktur listrik dan energi di Ukraina.

Perang siber antara dua negara yang bertikai juga konon kerap terjadi. Pasalnya, serangan siber ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah namun juga dilakukan oleh individu.

Aditya berkata: “Karena cyber tidak bisa dikendalikan, karena masyarakat suatu negara bisa punya pilihan, kita bisa bilang dari internet kita tidak suka negara ini, kita masuk perlahan, sekarang disebut hacktivist.”

“Jadi sebenarnya cybercrime terjadi karena tidak hanya di tingkat daerah, tapi di tingkat aktivis yang mampu melakukannya,” imbuhnya.

Namun baru-baru ini, kelompok peretas Rusia kembali muncul di kawasan Asia-Pasifik. Ensing mencatat bahwa kelompok peretas Rusia yang disponsori negara seperti APT28, FIN7 dan Turla telah mulai beroperasi di negara tempat mereka beroperasi.

Aditya mengungkapkan, ada 21 kelompok teroris yang menyasar enam negara di atas. Dari jumlah tersebut, 16 merupakan kelompok yang disponsori negara, sedangkan lima sisanya merupakan kelompok kejahatan terorganisir.

Indonesia sendiri menjadi sasaran delapan kelompok ancaman yang disponsori negara, antara lain APT33 (Iran), APT38 (Korea Utara), APT41 (China), Black Rose (Vietnam), Earth Longzi (China), GambleForce (China), Lazar Group ( Korea Utara), dan Tula (Rusia). Saksikan video “Indonesia bisa menekan kerugian hingga Rp 1,3 triliun dengan cyber education” (vmp/fay)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *