Jakarta –

Read More : iPhone SE 4 Akan Dirilis dalam Hitungan Hari, Kapan?

Pendapatan rata-rata tukang ojek di pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta Utara hanya 800.000 rupiah per bulan. Tidak jarang pendapatan mereka pun semakin rendah.

Mengingat garis kemiskinan DKI Jakarta sebesar Rp 792.515 per kapita pada tahun 2023, berarti “masyarakat kano” hidup sangat dekat dengan kemiskinan. Jadi bagaimana mereka bertahan hidup?

Salah satu tukang ojek, Bakar (78), mengatakan, penghasilannya sehari-hari sangat tidak menentu. Terkadang dia hanya bisa mengangkut Rp 100.000 (satu kali) per hari, namun setelah itu dia tidak lagi membawa penumpang.

Dapat mengangkut maksimal dua penumpang per minggu. Perkiraan tersebut, Bakar mampu mengangkut maksimal delapan penumpang dan memperoleh penghasilan maksimal Rp 800.000 per bulan.

“100.000 rupee cukup untuk satu atau dua hari, bensin hanya untuk derek. Satu liter cukup untuk kapal tunda mudik (dari pinggir dermaga sampai mercusuar), sisanya untuk makanan dan rokok, kata Bakar saat ditemui detikcom, Selasa (23/04/2024).

Jika ia tidak bisa mendapatkan penumpang, mau tidak mau ia harus meminjam makanan untuk mengisi perutnya yang kosong. Dia membayar hutang ini dengan mencari pelanggan tetap.

“Kalau tidak ada penumpang, pinjam dulu ke toko, bayar kalau punya uang. Sekali makan harganya tidak lebih dari 15.000 rupiah dan dua batang rokok harganya 5.000 rupiah, jadi 20.000 rupiah. OKE. Cih, mandek kalau tidak. “Nanti kalau dapat uang, kita berhutang R50.000,” jelas Bakar.

Kalau dia benar-benar diam, maka dia tidak punya penghasilan sama sekali. Sesekali Bakar pulang ke rumahnya di Pasar Kemis, Tangerang.

Beruntungnya, anak-anak Bakar sudah bekerja dan berkeluarga di rumah. Dengan begitu, ketika toko yang mereka jaga mulai menumpuk hutang, mereka bisa membantu.

“Kalau tidak ada, pulanglah ke Kemis Bazaar. Anda punya istri dan anak di sana. Mereka biasanya tahu kalau pulang kampung, sudah punya banyak hutang. Mereka memberi tahu Anda berapa yang harus Anda bayar,” Bahar. menjelaskan

“Sebenarnya saya sudah disuruh di rumah bersama anak-anak, saya sudah bekerja. Tapi apa gunanya saya tidak melakukan apa-apa di rumah? Ya, saya di sini sedang bekerja, malam hari saya tidur di sana (perahu sedikit lebih besar .dengan tenda di sepanjang dermaga yang menandakan)”, tambahnya.

Sementara itu, tukang ojek lainnya bernama Lupi (61) mengaku bernasib sama seperti Bakara. Namun, berbeda dengan Bakar yang tinggal sendiri, ia dan keluarganya tinggal di seberang dermaga di Luar Batang.

Sehingga ia bisa sering membawa nasi dari rumah dan makan di kapal sambil menunggu penumpang. Selain itu, ia masih memiliki beberapa pelanggan angkutan yang membutuhkan perahu untuk mengangkut muatan ke jembatan timbang.

“Hampir setiap hari ada pembeli, satu atau dua ratus ton bijih besi. Mereka membawanya ke jembatan timbang di sana (seberang tempat kapal berlabuh),” kata Lupi.

Dia bisa mendapatkan 100.000 rupee untuk sekali transportasi. Dengan begitu, jika tidak ada turis yang mau menaiki sampannya, dia bisa membawa pulang sejumlah uang untuk keluarganya. (fdl/fdl)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *