Jakarta –

Read More : Anak Makan Sambil Nonton Gadget Bisa Bikin GTM? Dokter Bilang Gini

Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), rata-rata konsumsi protein masyarakat Indonesia saat ini tertinggal dibandingkan negara lain. Banyak orang mengalami kekurangan protein.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Budi Sulistio mengatakan, rata-rata asupan protein harian masyarakat masih 62,3 gram. Sedangkan di negara berkembang, konsumsi protein hariannya melebihi 100 gram.

“Di negara-negara berkembang, konsumsi proteinnya sudah lebih tinggi dari 100 gram per hari. Dibandingkan dengan Vietnam, kita masih jauh, Vietnam sudah mendekati 100 dengan takaran 94 gram per hari,” jelas Budi dalam konferensi pers, Selasa (17/ ). 9/). 2024) dari konsumen ‘susu ikan’

Yogie Arry, pendiri Give Protein, mengatakan produk susu miliknya sebenarnya dipasarkan sebagai minuman berprotein ikan. Namun, konsumen menemukan bubuk protein ikan terhidrolisis (HPI) berwarna putih seperti susu, sehingga mereka mulai menyebutnya ‘susu ikan’ dan bukan minuman protein ikan.

“Jadi ini bisa memperjelas bahwa terminologi yang saat ini menjadi perdebatan adalah minuman berprotein ikan berdasarkan produknya,” jelas Yogi dalam jumpa pers, Selasa (17/9/2024).

“Karena bentuk atau bentuknya berwarna putih dan rasanya susunya enak, makanya disebut ‘susu ikan’,” lanjutnya.

Kata Budi, ‘susu ikan’ merupakan produk turunan dari hidrolisat protein ikan (HPI) yaitu ekstrak protein ikan hasil penelitian yang dilakukan Kelompok Bioteknologi KKB Lipang pada tahun 2017 dengan menggunakan ikan yang kurang ekonomis.

“Sebagai langkah strategis dalam mewujudkan generasi emas Indonesia, HPI merupakan upaya peningkatan konsumsi protein masyarakat untuk mendukung program pangan bebas bergizi dan mental bebas 100 gram protein seperti di negara berkembang,” kata Budi.

Jajanan anak diuji di sekolah

Produksi susu ikannya sendiri sudah diujicobakan pada anak-anak sekolah. Produk uji berupa olahan susu bubuk dari HPI.

“Kami menjangkau anak-anak sekolah untuk mendapatkan pengalaman tersebut. (Anak-anak sekolah) menyukainya,” kata Budi.

Selain dalam bentuk susu bubuk, ‘susu ikan’ juga dicampurkan ke jajanan lain seperti Chilok. Kedepannya, lanjut Budi, bisa ditambahkan pada kue untuk meningkatkan kandungan protein dalam makanan.

“Kita fortifikasi dan dicoba ke anak-anak sekolah. Kita tanya jawabannya (mereka), apakah mereka merasa ada proteinnya, apakah ada ikannya (chilok) dan mereka merasa tidak (rasa ikan). Kalaupun ada ikannya. protein,” kata Budi.

“Kemudian bisa kita uji di cookies. Kalau kita tambahkan (susu ikan) ke dalam cookies, tujuannya kita berikan sebagai cookies di posykan. Di sana, ibu hamil yang dites akan berkesempatan mengonsumsi protein ekstra. Selain itu, ” Budi .terbuat dari ikan yang harganya murah.

Yogie Arie, pendiri Give Protein, mengatakan bahan baku pembuatan ‘susu ikan’ ini berasal dari ikan yang bernilai ekonomi rendah seperti ikan selar dan betek. Ikan ini diperoleh langsung dari hasil panen para nelayan.

“Jadi kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk menyerap potensi yang dimiliki para nelayan. Ikan yang ekonomisnya kurang, katakanlah 70 persen ikan itu tertangkap secara tidak sengaja saat nelayan membuang jaringnya,” kata Yogi. Konferensi pers pada Selasa (17/9/2024).

“Ikan yang nilainya kecil, meski sudah dipanen, dibuang kembali ke laut, dan kami sedang memikirkan bagaimana memanfaatkan potensi besar ini. Kami bekerja sama dengan nelayan tradisional untuk menyediakan bahan baku ikan, jangan pikirkan salmon,” lanjutnya.

Berikutnya: Seperti apa rasanya susu ikan?

Saksikan video “Ikan Bandeng Diusulkan Program Makan Gratis” (dpy/naf)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *