Jakarta –

Read More : WHO Perkirakan Ada 1,1 Juta Kasus Malaria di RI, Tapi Baru Terdeteksi Setengahnya

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan peringatan serius mengenai risiko kontaminasi bisphenol A (BPA) pada galon daur ulang yang paling umum digunakan masyarakat. Emma Setyavati, Pj Wakil Pengawas Makanan Olahan BPOM, mengatakan ada banyak penyakit yang terkait dengan paparan BPA.

“Banyak penelitian yang menunjukkan risiko kesehatan akibat paparan BPA melalui mekanisme gangguan endokrin, khususnya hormon estrogen,” kata EMA dalam keterangan tertulisnya tertanggal Selasa (6/8/2024). katanya.

Dijelaskannya juga, penyakit-penyakit tersebut antara lain gangguan sistem reproduksi, diabetes dan obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal, kanker, gangguan perkembangan kesehatan mental, dan gangguan spektrum autisme (ASD) pada anak.

Risiko kontaminasi BPA pada galon yang dapat digunakan kembali

Galon reusable berbahan polikarbonat umumnya digunakan kembali setelah dibersihkan di pabrik. Namun jika proses pencucian dan pengeluarannya tidak tepat dapat menyebabkan kontaminasi BPA.

“Mencuci dengan suhu tinggi, menggunakan deterjen atau menggosok bagian dalam galon hingga tergores, serta menjemur galon di bawah sinar matahari langsung dapat menyebabkan migrasi BPA,” jelas Emma.

Selain itu, Akbar Hanif Dawam Abdullah, peneliti polimer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menambahkan penggunaan BPA membuat galon lebih kuat dan tahan panas, namun potensi migrasi BPA tetap ada.

“BPA bisa masuk ke dalam tubuh dan mengganggu fungsi hormon,” ujarnya.

Kebijakan BPOM baru

BPOM menyetujui penambahan dua pasal baru pada aturan label pangan olahan pada 5 April 2024. Pasal 48a mengharuskan air minum dalam kemasan diberi label cara penyimpanannya, sedangkan Pasal 61A mewajibkan label peringatan bahaya BPA ditambahkan ke semua galon. Air minum bermerek menggunakan kemasan polikarbonat.

Pada tahun 2028, produsen harus menerapkan peringatan bahwa kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA ke dalam air minum dalam kemasan dalam kondisi tertentu.

IMA telah meminta industri untuk ‘memantau secara independen’ persyaratan keamanan pangan dan pengemasan secara teratur dan secara konsisten menerapkan metode produksi pangan yang diproses dengan baik (CPPOB).

Tak hanya itu, kajian BPOM 2021-2022 mengungkap tren mengkhawatirkan pencucian BPA ke dalam galon air minum melalui kemasan plastik polikarbonat. Tingkat migrasi BPA dilaporkan melebihi ambang batas aman di lima provinsi.

Dampak BPA yang semakin ketat

Otoritas keamanan dan mutu pangan di berbagai negara semakin memperketat batas aman paparan BPA. Pada bulan April 2023, Otoritas Keamanan Pangan Eropa menetapkan nilai Tolerable Daily Intake (TDI) untuk BPA sebesar 0,002 mikrogram/kilogram berat badan per hari, 20.000 kali lebih rendah.

EMA menekankan bahwa kebijakan pelabelan BPA didasarkan pada keinginan pemerintah untuk melindungi kesehatan masyarakat. Galon air yang volume produksi tahunannya mencapai 21 miliar liter dan dikonsumsi oleh total 50,2 juta orang pada tahun 2020 atau 18 persen penduduk Indonesia, dikonsumsi oleh semua kelompok umur.

BPOM memandang perlu segera mengatur label AMDK berdasarkan data risiko kesehatan, volume konsumsi, dan produk yang beredar.

Diharapkan dengan adanya peringatan dan kebijakan baru ini, masyarakat menjadi lebih sadar akan bahaya BPA dan produsen lebih memperhatikan standar keselamatan dalam produksi dan distribusi galon yang dapat digunakan kembali. BPOM terus memantau dan memastikan upaya pencegahan tersebut efektif melindungi kesehatan masyarakat dari risiko kontaminasi BPA. Saksikan video “AMDK Galon PET Menjadi Pilihan Baru Masyarakat” (ncm/ega)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *