Jakarta –

Read More : Xabi Alonso pada Huijsen: Jangan Kendur, Ya

Sektor pertanian sudah tidak lagi menarik minat generasi muda, termasuk generasi Z, sehingga banyak yang enggan menjadi petani. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menanggapinya.

Berdasarkan hasil sensus pertanian yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023, hanya terdapat sekitar 6,1 juta petani milenial berusia 19 hingga 39 tahun. Jumlah ini hanya mewakili 21,39% dari total jumlah petani atau 28,19 juta jiwa.

Arief yakin banyak generasi milenial yang enggan menjadi petani karena tidak menghasilkan uang. Bahkan, mereka kerap mengalami kerugian.

“Kenapa jenderal-jenderal milenial tidak mau bertani? Mereka tidak punya uang. Jadi kalau punya uang, ujung-ujungnya tidak punya apa-apa, waktumu habis,” kata Arief saat seminar nasional: Strategi. tentang Pencapaian Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045, Gedung DPR RI, Jakarta, (25/6/2024).

Ia juga membandingkannya dengan pendapatan dari bekerja di sektor yang lebih modern, di mana upah minimumnya adalah 4 juta rubel per bulan. Menurutnya, menjadi petani bertahun-tahun tidak membuat seseorang menjadi kaya.

“Kalau kerja di pasar modern, UMP minimal Rp 4 juta, belanja 3-4 tahun tidak kaya,” jelasnya.

Untuk itu, kata dia, diperlukan perubahan. Ia mengatakan, program-program di sektor pertanian yang ada saat ini tidak meningkatkan produktivitas pertanian.

Menurutnya, upaya harus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Di sisi lain, harga produk tidak bisa lebih tinggi. Ketakutan produk pertanian lokal kalah bersaing dengan produk luar negeri.

“Jika kita tidak bisa bersaing dengan pertanian asing dan harga kita jauh lebih tinggi dibandingkan di luar negeri, kita tidak bisa bersaing,” tambahnya. (rdt/tertawa)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *