Jakarta –

Read More : Jadwal MPL ID S15 Week 5 Hari Ini: Evos Vs Onic

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memaparkan arah kebijakan belanja dalam Proyek Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, salah satu program yang dilanjutkan pada masa pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rahmatarwata mengatakan belanja subsidi akan menyasar energi dan non-energi. Kebijakan subsidi akan dilakukan untuk menstabilkan harga dan menjaga daya beli masyarakat, serta mendukung UMKM dan petani.

Dalam Rapat Komite Kebijakan Belanja Pemerintah Pusat tentang RAPBN 2025, Issa mengatakan, “Untuk pengelolaan subsidi, kami berpendapat atau ingin merekomendasikan agar kita fokus pada stabilisasi harga dan menjaga daya beli serta mendukung UMKM dan petani.” Jakarta Pusat, Selasa, (25/6/2024).

Issa mengatakan salah satu biaya operasionalnya adalah subsidi energi yang terdiri dari BBM, LPG, dan gas. Namun implementasinya dinilai menghadapi banyak tantangan, antara lain risiko potensi liabilitas karena belum bisa dilaksanakannya kebijakan penyesuaian harga atau tarif sehingga menimbulkan kompensasi bagi badan usaha.

Selain itu, permasalahan lainnya adalah terkait kenaikan harga barang yang berdampak pada peningkatan kebutuhan bantuan energi. Kenyataannya target tersebut masih menjadi pekerjaan rumah dalam pelaksanaan program bantuan energi ini.

“LPG dan solar masih didistribusikan secara terbuka, hal ini perlu mendapat perhatian. Kalau kita bisa memperbaikinya agar lebih tepat sasaran, itu bisa menjadi area efisiensi yang kita perjuangkan,” ujarnya.

Untuk subsidi non-energi, pemerintah mendorong produksi pangan dan mendukung UMKM dan petani. Daftar subsidi yang akan diusung adalah subsidi pupuk, subsidi angkutan umum, subsidi bunga pinjaman program, dan subsidi pajak.

Isa mengatakan subsidi pupuk akan dialokasikan pada komoditas prioritas. Selain itu, program subsidi bunga pinjaman dilakukan untuk meningkatkan daya saing UMKM, serta menyediakan perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah (MBR).

“Niatnya sangat bagus dan mungkin sebaiknya kita pertahankan, tapi dari segi ketepatan sasaran dan modelnya agar masyarakat tidak terjerumus ke dalam subsidi semacam ini, mungkin kita harus memperbaikinya agar lebih baik lagi.” subsidi bisa efektif dan efisien,” pungkas Issa. (bantuan/gambar)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *