Jakarta –

Read More : Bos Microsoft Temui Jokowi, Bakal Investasi Rp 14 T?

Ratusan mahasiswa Bangladesh telah melakukan protes selama beberapa minggu terakhir. Aksi unjuk rasa tersebut digelar untuk menolak sistem kuota pegawai negeri atau aparatur sipil negara di Tanah Air.

Demonstrasi telah berlangsung sejak awal Juli. Mereka menentang sistem kuota yang mengharuskan 30% pekerjaan penting di pemerintahan disediakan untuk anak-anak pahlawan bangsa.

Anak-anak pahlawan adalah mereka yang orang tuanya berperang melawan Pakistan pada perang pembebasan tahun 1971.

Sistem ini sudah tidak digunakan lagi sejak 2018. Namun, bulan lalu, keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan peraturan tersebut dibatalkan.

Hal ini membuat siswa menjadi gila. Suasana protes semakin memanas pasca pengumuman putusan pengadilan.

Belakangan ditambahkan dugaan adanya bentrokan antara pemuda partai berkuasa Liga Awami dengan mahasiswa yang menolak aturan baru tersebut.

Setidaknya 234 orang terluka di ibu kota Dhaka saja. Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Dhaka mengatakan ratusan mahasiswa dirawat di rumah sakit tersebut.

“Sebanyak 234 mahasiswa dirawat di rumah sakit kami setelah bentrokan mahasiswa pada Senin,” kata Brigjen dan Direktur Rumah Sakit Dhaka Medical College Esaduzeman kepada Kantor Berita Arab, Rabu (17/7/2024).

Protes meningkat pada hari Minggu setelah Perdana Menteri Bangladesh Hasina membubarkan pengunjuk rasa dan mengatakan yang lain akan membantu keturunan pahlawan negara tersebut. Namun, ada kata-kata yang membuat siswa semakin gerah.

“Jika keturunan libertarian tidak mendapatkan keuntungan, lalu siapa lagi? Keturunan sekretaris?” dia berkata.

Kata “tidur” adalah kata yang sangat menghina di Bangladesh. Istilah tersebut diartikan sebagai orang yang tidak memihak pemerintah atau bekerja sama dengan Angkatan Darat Pakistan pada perang tahun 1971.

Mahasiswa dari 35 universitas di negara itu turun ke jalan dengan protes yang disertai kekerasan. Bentrokan antara pemuda pro-pemerintah dan pengunjuk rasa meningkat di Dhaka, mengakibatkan lebih dari 400 orang terluka.

Mohamed Naheed Islam, koordinator Kelompok Mahasiswa Melawan Diskriminasi, mengatakan para mahasiswa tidak menolak sistem tetapi melindungi keadilan. Oleh karena itu, mereka menuntut agar keturunan kombatan tahun 1971 dipilih berdasarkan prestasi dan bukan berdasarkan preferensi dalam sistem pelayanan sipil.

“Kami menuntut reformasi dengan memberikan sejumlah kuota bagi masyarakat kurang mampu. Kami menuntut lapangan kerja berbasis keterampilan,” tegasnya. (hari hari)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *