Jakarta –
Read More : Dorong Program P2L, Wamentan: Bisa Hemat Anggaran Sampai Rp 10 T
Berbagai penelitian mengenai teknologi baterai terus dilakukan, dan salah satu yang terbaru adalah penggunaan teknologi lithium-sulfur.
Ada dua kelompok penelitian independen yang mengeksplorasi penggunaan teknologi ini pada baterai. Satu kelompok fokus pada penelitian bahan katoda sementara kelompok lainnya mengembangkan elektrolit padat.
Dalam studi pertama, tim yang dipimpin oleh Profesor Jong-sung Yu dari Departemen Ilmu dan Teknik Energi di DGIST di Korea Selatan mengembangkan bahan karbon jenuh dengan nitrogen untuk meningkatkan kecepatan pengisian baterai lithium-sulfur.
Bahannya, yang terdiri dari pengurang panas berbasis magnesium, bertindak sebagai penerima belerang di katoda baterai. Dengan cara ini, baterai yang sangat efisien dihasilkan. Kapasitasnya mencapai 705 mAh saat diisi selama 12 menit.
Struktur karbon yang dibentuk oleh reaksi magnesium dan nitrogen pada suhu tinggi ZIF-8 menghasilkan penyerapan sulfur yang tinggi dan konektivitas elektrolit yang lebih baik.
Hasilnya, terjadi peningkatan kapasitas sebesar 1,6x dibandingkan baterai konvensional jika diisi menggunakan fast charging, lapor detikINET dari Techspot, Senin (20/1/2025).
Penggunaan nitrogen dapat secara efektif menekan migrasi litium polisulfida, sehingga baterai dapat mempertahankan hingga 82% kapasitasnya setelah 1000 siklus pengisian dan pengosongan baterai.
Kolaborasi dengan Argonne National Laboratory juga mengungkap bahwa litium sulfida terbentuk secara lokal menggunakan bahan karbon dengan struktur berlapis.
Temuan ini menegaskan manfaat penggunaan nitrogen dan struktur karbon berpori untuk meningkatkan penyerapan belerang dan mempercepat laju reaksi.
Dalam studi terpisah, peneliti Tiongkok dan Jerman menemukan elektrolit kuat yang dirancang untuk mengatasi reaksi kimia lambat antara ion litium dan unsur belerang. Elektrolit baru ini berbentuk kaca dan terbuat dari campuran boron, belerang, litium, fosfor, dan yodium.
Ternyata komponen terpenting dalam elektrolit adalah yodium. Unsur ini bertindak sebagai perantara dalam transfer elektron ke belerang, yang sangat meningkatkan percepatan reaksi elektroda.
Hasil tesnya luar biasa. Saat diisi dengan kapasitas yang sangat tinggi (dari kosong hingga terisi penuh dalam satu menit), baterai dapat mempertahankan kapasitasnya 25 kali lebih lambat dalam sekali pengisian daya.
Pada kecepatan pengisian daya kelas menengah, baterai dapat mempertahankan kapasitas lebih dari 80% setelah lebih dari 25 ribu siklus pengisian dan pengosongan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan ketahanan yang dapat dicapai baterai lithium-ion tradisional, yang hanya dapat mempertahankan 80% kapasitasnya setelah 1.000 siklus pengisian dan pengosongan. Tonton video “Video Gading-Gisel Tetapkan Aturan Penggunaan Ponsel di Gempi” (asj/fay)