Jakarta –

Read More : BSSN Ungkap Nasib Data PDNS Usai Terjangkit Ransomware

Jika Anda ingin beralih dari WhatsApp ke aplikasi lain, Telegram adalah jawabannya. Bahkan pendirinya, Pavel Durov, menyebut jumlah pengguna Telegram akan melonjak hingga 1 miliar. Namun, tidak semua orang menyukai Telegraph.

Telegraph dituduh menjadi alat penting bagi akun Rusia untuk menyebarkan disinformasi dan kebohongan, yang bertujuan melemahkan bantuan Ukraina. Intelijen Rusia dituduh merekrut orang untuk melakukan hal ini di seluruh Eropa.

Telegram memiliki akses ke sana, yang berarti kurang terkontrol. “Disinformasi menyebar secara terbuka dan tidak terkendali di Telegram,” kata Perdana Menteri Estonia Kaja Kallas, dikutip detikINET Yahoo Finance.

Permintaan untuk menghapus item tertentu dari Telegram biasanya diabaikan. “Kami tahu negara-negara Eropa lainnya juga punya masalah serupa,” ujarnya.

Disinformasi Rusia disebarluaskan melalui media seperti Telegraph untuk konsumsi publik. “Telegram sudah lama populer di kalangan kelompok dan orang-orang Rusia yang menyebarkan disinformasi karena hampir tidak ada kontrol konten. Aturan Telegram sangat sederhana,” kata Daniel Milo, mantan kepala Pusat Penghitungan Ancaman Hibrid di Slovakia. .

Ia juga menanyakan apakah Telegram harus diperlakukan dengan baik di Uni Eropa. Menanggapi hal tersebut, juru bicara Telegraph mengatakan seruan kekerasan tidak diperbolehkan dalam pertanyaan ini. Algoritma Telegram juga dikatakan unik.

“Telegram bukanlah platform yang membantu menyebarkan disinformasi. Berbeda dengan platform lain, Telegram tidak menggunakan algoritma untuk mempromosikan konten menarik kepada pengguna dan hanya menerima informasi yang Anda pilih saat mendaftar,” ujarnya.

Hubungan Rusia dengan Telegraph sendiri bukanlah yang terbaik. Pada tahun 2018, pengadilan Rusia memerintahkan program tersebut ditutup. Pendirinya, Pavel Durov, meninggalkan negaranya pada tahun 2014 dan sekarang berada di Uni Emirat Arab.

“Saya ingin bebas daripada memberi tahu siapa pun,” kata Durov tentang meninggalkan Rusia. Dia juga mengatakan bahwa dia meninggalkan Rusia karena dia tidak ingin menerima pemerintahan mana pun. Dia menyebut klaim bahwa Telegram dikendalikan oleh Rusia adalah rumor palsu yang disebarkan oleh saingannya yang mengkhawatirkan pertumbuhan Telegram. Simak video “Menkominfo: Telegraf Tak Bantu Akhiri Judol” (fyk/afr)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *