Jakarta-
Read More : Asyik, MyTelkomsel Kini Punya Banyak Fitur Ciamik
Kecerdasan Buatan (AI) telah mengubah banyak hal, termasuk industri game. Saat ini, integrasi AI dengan game telah menjadi bagian integral dari pengembangan dan pengalaman bermain game. Kalaupun kita ambil contoh game Mobile Legends besutan perusahaan pengembang Munton yang sangat populer di kalangan pemain di Indonesia.
Game ini menggunakan teknologi AI dalam fitur perjodohan, penyeimbangan pahlawan, dan VS. (Sebaliknya) Kecerdasan Buatan. Pada fitur matchmaking, kecerdasan buatan digunakan untuk mencocokkan pemain yang memiliki tingkat keahlian serupa dengan lawan. Pada fungsi Hero Balance, dengan menggunakan analisis data game, kecerdasan buatan membantu mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing hero, sehingga perubahan dapat dilakukan dengan cepat untuk menjaga keseimbangan permainan.
Fitur lainnya antara lain, VS. AI, Mobile Legends juga menawarkan pemainnya kesempatan untuk merasakan “game play” dengan teknologi AI yang canggih.
Dalam artikelnya yang bertajuk โIndustri Game dalam Revolusi Buatan,โ Forbes menyatakan bahwa industri game menggunakan kecerdasan buatan untuk menciptakan pengalaman yang lebih personal dan interaktif. Karakter yang didukung oleh kecerdasan buatan atau biasa disebut NPC (non-playable character), berevolusi menjadi semakin cerdas, mampu menampilkan perilaku yang lebih realistis, dan mampu beradaptasi dengan tindakan pemain.
Kemampuan beradaptasi ini membuat dunia game menjadi lebih hidup dan responsif. Selain menguntungkan para gamer, AI di industri game juga diklaim dapat membantu perusahaan pengembang game. Menurut laporan BBC, berdasarkan pernyataan CEO perusahaan teknologi game EA, pada tahun 2024, industri game akan memimpin adopsi teknologi ini, dengan 60 persen dari total pengembangan game menggunakan kecerdasan buatan.
Industri game global percaya bahwa algoritme AI dapat menyelesaikan ribuan pertandingan atau keseluruhan game dari awal hingga akhir serta mengidentifikasi bug lebih cepat dan lebih baik daripada manusia.
Hal ini tentunya membantu para pengembang game untuk mengurangi biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan game tersebut. Namun, selain kemudahan yang diberikannya, teknologi baru lainnya seperti kecerdasan buatan juga menimbulkan kekhawatiran. Misalnya saja ketakutan akan penggantian sumber daya manusia di industri game dan ketergantungan pada pengembangan game dengan kecerdasan buatan dalam upaya meningkatkan retensi pemain.
Perkembangan permainan yang cepat
Menggunakan teknologi AI untuk meningkatkan retensi pemain menjadi tujuan utama dalam industri game. Menurut penelitian yang dipublikasikan IDC pada tahun 2023, untuk setiap dolar yang diinvestasikan perusahaan pada teknologi AI, mereka akan mendapatkan keuntungan sebesar 3,5, atau sekitar 3,5 kali lipat dari pengeluaran modal awal.
Teknologi AI memainkan peran penting dalam upaya perusahaan pengembang game untuk mendapatkan keuntungan dari loyalitas ini dengan menganalisis data pemain untuk memahami pola dan preferensi. AI mempersonalisasi pengalaman bermain game, menawarkan rekomendasi item, misi, atau mode permainan yang disesuaikan dengan minat pribadi pemain.
Pengalaman yang sangat dipersonalisasi ini tidak hanya meningkatkan kepuasan pemain tetapi juga memungkinkan mereka untuk memperpanjang waktu bermain game, yang pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran tentang potensi kecanduan game, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Buka akses ke beragam pilihan aplikasi AI untuk pengembangan game, memungkinkan siapa saja, termasuk anak-anak, membuat game mereka sendiri dengan memodifikasi instruksi di ludo.ai atau ChatGPT untuk pengembangan game!
Dengan penggunaan kecerdasan buatan yang etis dan adil, kreativitas para pengembang game, termasuk anak-anak, menjadi tidak terbatas. Dahulu kita membayangkan bahwa membuat sebuah game membutuhkan proses yang sangat panjang, namun kini, dengan kemudahan yang diberikan oleh kecerdasan buatan, siapa pun akan memiliki peluang luas untuk menguasai kemampuan beradaptasi dengan teknologi AI, yang akan mengalahkan mereka yang tidak setuju. enggan. mempelajarinya.
Membangun kapasitas anak
Dalam upaya memaksimalkan manfaat game dan meminimalkan dampak negatifnya, Next Generation (NXG) Indonesia, sebuah organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang literasi digital, bersama dengan ICTWatch, mempelajari dampak video game terhadap anak-anak. , baru-baru ini meluncurkan program bernama Game Genius.
Bekerja sama dengan beberapa organisasi lain, Game Genius Initiative bertujuan untuk meningkatkan literasi digital, termasuk pemahaman dan penggunaan kecerdasan buatan, melalui berbagai aktivitas yang diintegrasikan ke dalam game. Tujuannya adalah untuk membekali anak bangsa dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan semangat kompetitif yang diperlukan untuk bertahan dalam ekosistem digital yang semakin โdikelilingiโ oleh kecerdasan buatan.
Acara yang ditujukan untuk peserta berusia antara 13 dan 18 tahun ini diharapkan mencakup kompetisi e-sports, panel industri, dan pameran permainan papan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KmenPPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), ID-COP, Asosiasi Game Indonesia AGI), GamersLife.ID dan berbagai organisasi pendidikan dan kemasyarakatan.
Diskusi ini juga bertujuan untuk mematangkan kurikulum program dan pemetaan pemangku kepentingan dalam program Game Genius pada tahun 2024. Oleh karena itu, pemanfaatan game, termasuk teknologi AI yang tergabung di dalamnya, bukan sekadar gimmick belaka untuk menyajikan hidangan sensasional bagi anak-anak Indonesia. .
*) Artikel oleh Ida Ayu Prasasti, ICT Watch. Penulis dapat dihubungi melalui email di sasti[at]ictwatch.id.ICTWatch berkomitmen untuk terlibat secara aktif dan bermakna dalam dialog mengenai tata kelola kecerdasan buatan (AI). Tonton video “Rise 2024 Google siap membekali 9.000 siswa baru dengan keterampilan kecerdasan buatan” (fyk/fyk)