Jakarta –

Read More : Minta Perjalanan Luar Negeri Dipangkas 50%, Prabowo: Bisa Hemat Rp 15 T

Kementerian Pertanahan dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) meminta tambahan anggaran Tahun Anggaran (TA) 2024 sebesar Rp 675 miliar pada Maret lalu. Namun hingga saat ini permintaan tersebut belum mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Hal itu diungkapkan Menteri ATR/Kepala BPN Agus Harimurti Yudhoyono. Tambahan anggaran tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan tugas Kementerian RIA/BPN pada tahun ini, termasuk melanjutkan target pendaftaran 120 juta bidang tanah.

“Belum (ada tanggapan Menkeu), tentu masih kita pantau, yang jelas kita punya usulan anggaran yang kita anggap penting, mendasar, untuk bisa menjalankan program politik. ,” kata AHY, berkumpul di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/7/2024).

Sedangkan pada tahun 2024, Kementerian ATR/BPN sendiri menargetkan pendaftaran tanah melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis (PTSL) mencapai 120 juta bidang tanah. Sementara saat ini jumlahnya baru mencapai 114 juta tanah yang terdaftar.

Selain PTSL, AHY menjelaskan anggaran tersebut juga akan digunakan untuk melakukan beberapa kemajuan. Menurut dia, hal ini disebabkan permasalahan tata ruang dan wilayah menimbulkan tantangan kompleksitas sehingga memerlukan kemajuan dan dukungan anggaran untuk menyelesaikannya.

“Masalah pertanahan, termasuk penyelesaian persoalan tata wilayah, juga kompleks dan membutuhkan dukungan anggaran dan itu yang coba kita lakukan, meski kita memahami bahwa negara, pemerintah, memiliki beberapa prioritas. Ada banyak prioritas,” ujarnya. . .

Ia sendiri sadar pemerintah mempunyai banyak prioritas di sisi ekonomi, mulai dari pengembangan sumber daya manusia (SDM) hingga lahan itu sendiri, sehingga pihaknya memaklumi kondisi tersebut. Meski demikian, dia tetap berharap RIA/BPN mendapat tambahan anggaran tersebut.

“Setiap orang punya kepentingan dan prioritas. Makanya kami juga ingin memahami situasi ini. Tapi secara khusus kami juga meminta agar anggaran yang dialokasikan ke RIA/BPN juga mencukupi kebutuhan dan juga tujuan yang harus kita capai. ,” dia berkata.

Sebagai tambahan informasi, AHY menginformasikan dalam Rapat Kerja Bersama (Raker) dengan Komisi II DPR RI bahwa diperlukan tambahan anggaran untuk RIA/BPN tahun anggaran 2024 sebesar Rp 675 miliar. pada bulan Maret 2024. Sedangkan pada tahun 2024, Kementerian RIA/BPN mendapat pagu anggaran sebesar Rp7,59 miliar.

Namun kebijakan penyesuaian otomatis berdampak pada ATR/BPN alias diblokir senilai Rp404,31 miliar. Menurut dia, secara keseluruhan anggaran tersebut belum cukup untuk mencapai tujuan yang harus dicapai dalam 7 bulan ke depan. Karena itu, dia meminta tambahan anggaran.

Untuk itu, untuk juga meningkatkan PNBP kami, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan (Sri Mulyani) agar Kementerian ATR / BPN mendapatkan tambahan anggaran sebesar Rp675,87 miliar dari pendapatan PNBP 2023, kata AHY. di kantor. Rapat kerja dengan Komisi II DPR RI, di Shenan, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2024).

AHY merinci lebih lanjut mengenai alokasi dana tambahan tersebut. Pertama, dana senilai Rp350 miliar akan dialokasikan untuk Program Pendaftaran Tanah Sistem Total (PTSL). Selain itu, Rp100,4 miliar akan dialokasikan untuk Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Kemudian, Rp225,46 miliar dialokasikan untuk mempersiapkan penuh 104 kabupaten/kota dan melakukan transformasi digital.

Pada Juni lalu, AHY juga menyoroti pagu indikatif anggaran tahun anggaran 2025 hanya Rp 6,45 triliun. Namun, dia mengaku ragu untuk meminta tambahan anggaran lagi kepada Kementerian Keuangan pada tahun depan. Oleh karena itu, ia mempertimbangkan opsi pinjaman lunak dari Bank Dunia.

“Terima kasih kepada Direksi yang telah menyampaikan segala keprihatinannya agar RIA/BPN tidak mengalami penurunan, apalagi jika cukup signifikan. Memang benar, kami mungkin awalnya ragu untuk mengungkapkan keterbatasan anggaran ini,” kata AHY dalam pidatonya. rapat dengan Komisi II di Senan, Jakarta Pusat, Selasa (6/11/2024).

AHY kemudian mengungkapkan, kementerian yang membawahinya mengajukan anggaran sebesar Rp14 miliar untuk tahun 2025. Namun, setelah mendapat pagu indikatif sebesar Rp6,45 miliar dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Kementerian Keuangan, ia mengaku ragu. minta anggaran lebih besar.

Oleh karena itu, saat ini AHY menjelaskan pihaknya sedang mengajukan permintaan tambahan anggaran sekitar Rp 620 miliar. Di sisi lain, AHY mengatakan Kementerian ATR/BPN kini berupaya mendapatkan pinjaman lunak dari Bank Dunia. Jumlahnya mencapai US$635 juta atau Rp 10,3 triliun (kurs Rp 16.311). (shc/rd)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *