Jakarta –
Read More : Ada 214 Kasus HMPV di Jakarta Sejak 2023, Simak Lagi Cara Pencegahannya
Seorang anggota parlemen di Jepang mendapat respon keras dari masyarakat setelah menyarankan agar semua perempuan melakukan pengangkatan rahim pada usia 30 tahun. Ia yakin hal ini dapat mendorong warga Jepang untuk segera memiliki anak dan mengembalikan angka kelahiran yang rendah.
Diberitakan Hindustan Times, pemimpin Partai Konservatif Jepang, Naoki Hyakuta, mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara video di YouTube. Saat itu ia membahas langkah-langkah yang dapat meningkatkan penurunan angka kelahiran di Jepang.
Dalam usulannya, Naoki merekomendasikan pelarangan perempuan menikah pada usia 25 tahun dan mendorong aborsi pada usia 30 tahun.
Naoki mengatakan program penting ini akan mendorong perempuan untuk memiliki anak ketika angka kelahiran mulai meningkat. Ia mengatakan, partisipasi perempuan dalam pendidikan universitas harus dibatasi mulai usia 18 tahun agar mereka bisa fokus memiliki anak.
Ide kontroversial tersebut langsung ditentang oleh perempuan Jepang. Dalam penjelasannya, Naoki meminta maaf dan mengatakan bahwa komentarnya ditulis sebagai ‘fiksi ilmiah’.
Naoki mengakui bahwa komentarnya tidak dihargai dan dia menolak untuk benar-benar mendorong praktik seperti itu pada perempuan.
“Apa yang saya katakan adalah kita tidak bisa mengubah situasi sosial tanpa melakukan tindakan sejauh itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, masalah kesuburan di Jepang semakin meningkat. Pemerintah sedang berjuang untuk mengatasi tantangan populasi yang menua dan menyusutnya angkatan kerja.
Meski gagasan ini kontroversial, ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, warga Jepang juga dikejutkan dengan usulan insentif bagi perempuan yang ingin menikah dengan pria pedesaan. Ide ini mendapat kritik karena terlalu naif dan menyederhanakan.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Jepang, negara tersebut mencatat 350 ribu kelahiran antara Januari dan Juni. Angka ini turun 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tonton video “Video: Perceraian Rendah, Presiden Korea Selatan Ejek ‘I Live Alone'” (avk/kna)