Jakarta –
Read More : Wamenkeu Sebut Target Pertumbuhan Ekonomi Prabowo 8% Bukan Mimpi
Kementerian Perencanaan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) menyatakan Indonesia kehilangan potensi ekspor Kelapa hingga 89,800 miliar USD. Meski produksi kelapa Indonesia pernah menjadi yang terbesar di dunia, kini telah melampaui Menjadi Orang Filipina.
Perbedaan yang membuat Filipina lebih unggul dari Indonesia karena Filipina terorganisir dalam pengolahan kelapa. Oleh karena itu, ada dewan kelapa yang mendapat pengakuan, termasuk organisasi petani yang diakui, kata staf ahli menteri. Rencana Pembangunan Nasional Pimpin Pembangunan dan Pembangunan Negara Leonardo A.A Teguh Sambodo, dalam jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (27/9/2024).
Bapak Tegu mengatakan bahwa dari segi petani dan eksportir kelapa, sejak tahun 2020 Filipina telah mencapai harga yang tinggi bagi Indonesia. Saat ini posisi Indonesia berada di peringkat kedua dunia, Filipina di peringkat pertama.
“Sekarang Filipina mungkin punya wilayah terluas di dunia, sekitar 3,7 juta hektar, sedangkan Indonesia punya 3,3 hektar, sekitar 3,4 hektar, jadi luasnya ini menjadi pengingat, ‘Hei, ini di luar Filipina’. Alangkah baiknya jika kita bersatu, katanya.
Salah satu alasan Indonesia kalah dari Filipina adalah kurangnya kontrol terhadap produksi kelapa. Pak Teguh mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari Kementerian Pertanian, jumlah produksi kelapa di Indonesia masih stabil di angka 1,1 ton per hektar.
“Dan sebagian besar dibudidayakan oleh petani tradisional, artinya masih menunggu kemurahan alam memberikan hasil, dan banyak tantangan yang sebenarnya sudah tua dan rusak sehingga perlu diganti,” ujarnya.
Selain itu, sebagian besar kelapa yang diekspor Indonesia adalah kelapa tumpah yang diekspor secara ilegal sehingga tidak ada nilai tambah bagi Indonesia. Padahal, pajak ekspor kelapa seharusnya digunakan untuk memajukan industri kelapa dalam negeri.
Sebaliknya, Filipina yang memiliki sistem perdagangan kelapa yang baik, sudah lama berhenti mengekspor kelapa Saat ini Indonesia masih bebas mengekspor produknya sehingga potensi nilai buahnya bisa dibawa ke negara lain.
“Filipina wilayah pertama, Indonesia wilayah kedua, sedangkan wilayah pertama Tidak Boleh mengekspor (mengekspor) artinya berdasarkan Indonesia sebagai produsen utama kelapa. Tingkat kedua untuk ekspor (Ekspor). Sebagian dari peta jalan ini akan diikuti dan diperhitungkan kontribusinya,” ujarnya.
Sekadar referensi, kemungkinan untuk bisa mengekstrak bagian kelapanya sangat tinggi. Misalnya: air kelapa bernilai 5,25 miliar dollar AS setara dengan Rp 79,4 triliun, sabut kelapa bernilai 320 juta dollar AS setara dengan Rp 4,8 triliun, tempurung kelapa bernilai 373 juta dollar AS setara dengan Rp 5,6 triliun.
Dengan demikian potensi jumlah kelapa sebesar Rp 89,8 triliun. Inilah total kerugian yang dialami Indonesia selama ini karena tidak dimanfaatkan dengan baik
Dia menyimpulkan dengan mengatakan, “Ini tidak mungkin terjadi, jadi dengan membangunkan raksasa yang tertidur ini, kami ingin memanfaatkan kekuatannya.” (kanan/belakang)