Jakarta –

Read More : Menaker Jawab Kritik soal UMP Naik 6,5% Tidak Logis!

Kantor Presiden (KSP) mengatakan komoditas beras ukuran menengah berpeluang mengalami kenaikan harga saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Harga beras di zona 1, 2, dan 3 mengalami kenaikan signifikan dibandingkan harga eceran tertinggi (HET).

Wakil Ketua KSP Bidang Perdagangan dan Pangan Edy Priyono mengungkapkan, terdapat perbedaan harga beras yang signifikan antara HET Zona 2 dan 3. Barang-barang ini diberi label “tidak aman”. Wilayah 2 sendiri meliputi Pulau Sumatera, kecuali Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan. Sedangkan Wilayah 3 adalah Maluku dan Papua.

Sementara di Wilayah 1 yang meliputi Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi, harga juga sudah mulai naik di atas HET, namun tidak terlalu tinggi. Edi memasang bendera “peringatan” terhadap harga beras di Wilayah 1.

“Beras sama seperti minggu lalu, zona 1, 2, dan 3 rata-rata lebih tinggi dari HET. Zona 1 tidak besar, jadi zona 2 dan 3 perlu kita perhatikan, yang terlibat inflasi kontrol, kata. Rapat Koordinasi, Senin (23 Desember 2024).

Data yang diberikan Edy pada 20 Desember menunjukkan rata-rata harga beras di Distrik 1 adalah Rp.

Sedangkan di Wilayah 2 rata-rata harganya Rp 14.423 per kilogram, dengan HET sendiri Rp 13.100 per kilogram. Artinya terdapat perbedaan sebesar 10,11% dari HET. Kemudian di Zona 3 harga rata-rata Rp 16.973 dan harga HET Rp 13.500 per kilogram. Artinya terdapat selisih harga sebesar 25,73%. Namun karena produksi yang rendah.

Hal itu terkonfirmasi saat mereka mengunjungi pasar beras utama Jowhar di Karawang. Terdapat kekurangan beras ukuran sedang di pasaran. Berdasarkan laporan yang diterimanya, persediaan beras di Jawa Tengah semakin menipis.

Sementara itu, hasil verifikasi lapangan di Tempat Penyimpanan Gabah Demak, Jawa Tengah, menunjukkan produksi beras juga mengalami penurunan. Terdapat kekurangan yang serius dalam luas lahan panen di Denmark, yang telah menurun dari awalnya 114.000 hektar pada tahun 2018 menjadi 88.000 hektar pada tahun 2023.

“Saat kami ke Demak pekan lalu, dipastikan produksi Demak yang merupakan sentra produksi padi menurun dan pasokan pangan juga berkurang,” jelas Edi.

Selain itu, saat ini pengumpul biji-bijian dan penggilingan padi di Denmark kesulitan menyerap biji-bijian karena kekurangan pasokan. Kebanyakan penggilingan padi kini harus mendapatkan gabah dari daerah lain. Akibat pasokan yang tidak mencukupi, harga pangan kering panen yang dibeli pabrik Demark naik menjadi Rp 6.000 per kilogram.

Akhirnya harga beras di pabrik mencapai Rp 12.200 per kg dan HET sebesar Rp 12.500 saja sudah tidak sebanding dengan harganya, kata Edy. (acd/acd)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *