Jakarta –
Read More : Mau Setop Impor Beras, Prabowo Terbitkan Inpres 6/2025
Banjir yang melanda beberapa sentra produksi bawang merah di Pantura, Jawa, berdampak pada berbagai wilayah di Indonesia. Namun kenaikan harga di Sumatera diketahui tidak sebesar di Pulau Jawa karena pasokan masih bisa dipertahankan oleh Kabupaten Solok.
Kabupaten Solok saat ini merupakan penghasil bawang merah terbesar kedua di Tanah Air dan bahkan mendapat julukan ‘Brebe-nya Sumatera’. Berdasarkan data BPS tahun 2023, Solok mampu memproduksi bawang merah sebanyak 216.148 ton dengan luas panen 13.898 hektare atau 10,9% dari total produksi nasional.
Sejak diluncurkan pertama kali oleh Menteri Pertanian Andy Amran Sulaiman sekitar tahun 2015, pertumbuhan produksi di Solok sangat pesat dan pesat. Dinas Pertanian setempat memperkirakan produksi askal di Soloka pada akhir April 2024 mencapai 2.200 ton, dan pada Mei 2024 mencapai 8.840 ton.
Kontribusi produksi terbesar berasal dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Lembah Humanti, Kabupaten Lembang Jaya dan Kecamatan Danau Kembar.
Salah satu PPL Kecamatan Lembach Humanti, Yeni, mengatakan keunggulan sentra Solok dibandingkan kabupaten lain adalah panen rayap yang berlangsung sepanjang tahun.
“Di sini selalu ada bawang merah, karena bisa ditanam sepanjang tahun, apa pun musimnya. Produktivitasnya mencapai 10 ton/ha kering dan 18 ton/ha basah,” kata Yeni dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/04/2024).
Sayangnya, kata Yeni, Solok belum memiliki pelaku komersial besar seperti Kabupaten Brebes. Padahal Solok rata-rata mampu mengirimkan hingga 600 ton per hari ke beberapa wilayah di Sumatera seperti Medan Pekanbaru, Jambi, Bengkulu dan Aceh.
Haji Manguang, petani sekaligus pedagang bawang merah, menambahkan bawang merah di Solok bisa dipanen setiap hari karena penanaman juga dilakukan setiap hari. Bawang merah yang sudah dipanen disimpan di kapal uap untuk dikeringkan dan kemudian dikirim langsung ke berbagai wilayah di Sumatera.
“Garam bawang merah memiliki aroma yang kuat dan warna yang cerah. Inilah ciri khas Bawang Merah Garam yang dikenal dengan varietas SS Sakato. Bagi masyarakat Sumatera, SS Sakato menjadi favorit. Masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan “Padang Bawang Merah”, jelasnya.
“Selain itu juga ditanam bawang merah Singkil yang memiliki keunggulan masa tanam cukup singkat yakni 75 hari, berbeda tipis dengan SS Sakato yang mencapai 90 hari,” imbuh H. Manguang.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Pawuah Sepakek sekaligus Juara Bawang Merah Indra Vardi mengatakan, harga bawang merah di Solok di tingkat petani adalah Rp 35.000-40.000 per kg kondo basah sesuai varietas/ukuran bawang merah. . .
Menurut dia, permintaan pasar mempengaruhi harga pasar. Misalnya di Pekanbaru, bawang merah berbentuk lonjong lebih disukai konsumen, sedangkan bawang merah berbentuk bulat lebih populer di Solok dan Padang.
“Kepekaan dan kemampuan analisa pasar sangat diperlukan bagi para pemimpin dan pelaku usaha bawang merah untuk menjamin kebutuhan bawang merah di Sumatera,” ujarnya.
Terpisah, Ketua Persatuan Bawang Merah Indonesia Solok (ABMI) sekaligus tokoh petani setempat Amri Ismail mengatakan, kenaikan harga bawang merah yang melebihi harga jual acuan (HAP) sebesar Rp 41.500 per kg didorong pihaknya. menyebarkan bawang merah ke seluruh pulau dari Solok hingga Jawa.
“Kami mengirimkan bawang merah dari Solok ke pasar utama Kramat Jati untuk meningkatkan pasokan dan menstabilkannya di Jakarta. Biasanya kita kirim ke Aceh, Medan dan tempat lain di Sumatera, baru-baru ini kita kirim 18 ton ke PIKJ pada 15 April,” tutupnya. Cinta
(anl/eng)