Jakarta –

Read More : 10 Cara Alami Mengatasi Lemah Syahwat, Konsumsi Bayam hingga Jeruk

Kabar pernikahan lavender pun tersebar hingga banyak kasus gaduh di media sosial. Salah satunya adalah patah hati seorang istri yang akhirnya menceraikan suaminya setelah mengetahui orientasi seksualnya. Lebih dari 1 bulan, sang suami diketahui menolak berhubungan seks.

Berasal dari India masa kini, konsep ini berkaitan dengan refleksi perubahan sikap terhadap seks, seksualitas, dan ekspresi individu. Lebih tepatnya, pernikahan lavender diartikan sebagai pernikahan antara homoseksual dan homoseksual, orientasi seksual seringkali disembunyikan.

Ide seperti ini sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau menerima sudut pandang berbeda dari masyarakat umum. Ketika mereka terbuka tentang orientasi seksual mereka yang sebenarnya, kemungkinan kesulitan sosial, penilaian sosial, dan bahkan konsekuensi hukum jika mereka benar-benar menikah berdasarkan preferensi seksual mereka.

Apalagi pernikahan seperti itu ilegal di Indonesia. Meski secara umum persentase pernikahan lavender di dunia masih belum lebih tinggi dibandingkan pernikahan pada umumnya.

Dalam beberapa kasus yang terdokumentasi, hal ini telah menurun karena perubahan budaya dan semakin besarnya visibilitas LGBTQ+ telah memungkinkan individu untuk hidup lebih terbuka dan jujur ​​tanpa harus menyembunyikannya.

Pengaruh pernikahan Lavender

Beberapa ahli percaya bahwa orang yang menikah dengan lavender lebih mungkin mengalami konflik.

“Individu dalam pernikahan lavender mungkin mengalami konflik internal, penindasan diri, dan hubungan interpersonal yang tegang,” jelas Yu Huang.

Simak video “Video: BPOM tarik jajanan Latiao dari China yang terkontaminasi bakteri” (naf/suc)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *