Jakarta –
Read More : Petani Merauke Apresiasi Jokowi & Amran: Sekarang Tambah Enak Tanam Padi
Menjadi seorang live streamer bukannya tanpa tantangan. Mereka kerap diberi komentar kasar atau tuduhan miring.
Seperti terungkap dalam siaran langsung Dea Yuliani yang kini rutin tayang di Banjir Kanal Timur (BKT), Duren Sawit, Jakarta Timur. Diakui Dea, ada pihak yang tidak suka dan melontarkan komentar kasar seperti mengemis.
Dia juga membantahnya. Ia mengaku bernyanyi sendirian dan tidak pernah memaksa penonton untuk memberinya hadiah.
“Karena kita tidak minta apa-apa sebenarnya. Kita nyanyi, kalau ada yang mau hadiah silakan saja, kita tidak pernah minta hadiah,” ujarnya kepada detikcom di BKT Jakarta Timur, Rabu (25/9/2024).
Namun, dia tidak khawatir. Terkadang, kata dia, masyarakat juga membela dirinya. Penonton kembali bersorak.
Selain itu, ada juga komentar pedas yang menganggap suaranya biasa saja. Ia juga menjawab bahwa ia bukan seorang penyanyi, ia hanya fokus pada hobinya. Ia juga berpesan kepada penonton, jika tidak suka, lebih baik tidak menontonnya.
Tak hanya itu, ada juga komentar yang memintanya mencari pekerjaan. Bahkan, ia sehari-hari bekerja sebagai administrator di sebuah perusahaan pelayaran. Ia melakukan aktivitas live streaming di pagi hari dan bekerja sebagai administrator di malam hari.
“Ya Allah, dalam hatiku (aku) bekerja, makanya kadang aku merasa harus menulis cerita, padahal aku sedang bekerja, itu saja,” keluhnya.
Streamer lainnya, Yamo Zega menegaskan, aktivitasnya sebagai live streamer tidak mengemis. Ia juga mengaku tidak pernah meminta potong rambut.
“Saya tidak pernah memohon. Aku tidak memohon. Bahkan ketika orang meminta sebuah lagu, mereka tidak pernah meminta sebuah lagu. Ini merupakan apresiasi khusus terhadap orang-orang seperti itu. Tidak, saya tidak pernah memaksakannya. Terserah, mau menyanyi atau tidak, bebas. Kami tidak mengemis karena kami menjual bakat,” jelasnya.
Namun tak masalah jika Anda menyebutnya sebagai pengamen online. Ia menjelaskan, dibutuhkan modal dan usaha untuk menjadi seorang live streamer. Oleh karena itu, dia menegaskan, live streaming bukanlah kegiatan mengemis.
“Ternyata tidak perlu modal kalau mengemis. Benar, tidak, angkat tanganmu seperti itu, kan? Jadi kita memerlukan modal dan usaha seperti itu. Kita bangun pagi, kita beli segala macam alat, dan ini alat-alatnya. “Itulah, kita harus tahu dulu, tidak begitu saja,” jelasnya.
Begitu pula dengan live streamer Edo Wardo yang tidak setuju dengan kesehariannya mengemis secara online. Ia mengatakan bahwa penonton bersedia datang untuk melihat penampilannya.
“Kalau pengamen online boleh saja, kalau kita tidak setuju dengan pengemis online, apa pun alasannya, kita tinggal dulu, teman-teman ini datang tanpa diundang, seperti berjalan di depan pintu rumahnya, baru mereka masuk. Dan mereka “Kami senang, saya tinggal di kamar kami”, katanya.
“Yah gimana, kita kan temenan, kita baca komen, kita bawakan lagu-lagu yang request. Otomatis mereka ngasih kado tanpa minta. Mereka kasih kado karena senang. Jadi lebih spesifiknya kita kan pengamen online, nggak apa-apa. , tapi kalau dibilang pengemis online, mereka tidak cocok,” imbuhnya (das/das).