Jakarta –
Read More : Gol Yamal ke Gawang Prancis Jadi yang Terbaik di Euro 2024
Penggunaan produk berlabel ‘BPA Free’ sedang menjadi tren. Para ahli menilai pemahaman mengenai jenis-jenis plastik dan bahan kimia pembentuknya perlu dikoreksi agar tidak menyesatkan.
“Jangan sampai tersesat atau disesatkan,” kata Prof. Dr. Ahmed Zainal Abidin, pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan dalam diskusi forum pimpinan detikkom baru-baru ini.
Menurut Profesor Ahmed, yang lebih penting adalah memahami jenis-jenis polimer plastik dan cara menggunakannya dengan benar, untuk menghindari risiko paparan bahan kimia apa pun. Penting untuk diingat bahwa setiap jenis plastik mengandung bahan kimia yang berbeda dan, jika digunakan secara tidak benar, tidak lebih aman dibandingkan BPA, seperti stirena dan formaldehida.
“Untuk polietilen tereftalat (PET) itu (labelnya) diberi ‘BPA-free’, itu memang benar tapi tidak ada gunanya karena bahan berbahayanya adalah etilen glikol,” jelas Profesor Ahmed mencontohkan.
Daripada memberi label pada satu bahan kimia saja, Prof. Ahmed beserta instansi terkait memberi label keselamatan pada semua bahan kimia yang mungkin terkandung dalam kemasan plastik. Menurutnya, memberi label pada satu senyawa kimia saja sebagai tidak diinginkan akan mengurangi risiko bahan kimia lain yang memiliki risiko serupa, namun dapat dihindari.
“Label BPOM harusnya cukup untuk menjamin semuanya aman, jangan ditulis satu per satu,” tegas Profesor Ahmed.
Mengenai risiko paparan BPA dari wadah atau kemasan makanan, dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM, dokter spesialis onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menekankan praktik pemanasan langsung dari wadah plastik. dipanaskan. Menurutnya, praktik ini meningkatkan risiko partikel BPA bermigrasi dari wadah plastik ke makanan yang dikemasnya.
“BPA ini meleleh atau terlepas ketika dipanaskan pada suhu tinggi,” kata Dr. kata Andhika. Praktiknya menyimpan makanan di wadah makanan atau memasak langsung di microwave dengan wadah makanan, tambahnya.
Untuk memanaskan makanan di wadah plastik yang mengandung BPA, dr Andhika menyarankan untuk memindahkannya terlebih dahulu. Menurutnya, wadah kaca atau glass lebih aman dibandingkan dengan pemanas.
Sementara itu, pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Akhmad Zainal Abidin mengatakan ada beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi migrasi BPA. Dari segi suhu, migrasi terjadi pada suhu di atas 70 derajat Celcius, sehingga relatif aman pada suhu ruangan. Tonton video “BPOM Kini Wajibkan Pelabelan BPA pada Galon Air Minum Dalam Kemasan” (atas/atas)