Jakarta –

Read More : Ini Daftar Mobil Toyota yang Terkena Dampak dari Skandal Uji Sertifikasi

Impor produk plastik jadi meningkat Hingga April 2024, nilai impor tercatat mencapai US$ 233,15 miliar.

Iko Harjanto, Asisten Deputi Pengembangan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mengatakan neraca perdagangan plastik Indonesia selalu defisit selama 10 tahun terakhir. Defisit perdagangan plastik Indonesia kemungkinan akan meningkat hingga mencapai $1,7 miliar pada tahun 2023.

“Ekspor plastik Indonesia setiap tahunnya tetap stabil, sedangkan impornya mengalami peningkatan seperti terlihat pada grafik. Jadi pada tahun 2023 ekspor mencapai $1,49 miliar dan impor mencapai $3,27 miliar,” jelas Eco, Kamis (15/8/2024) Hilirisasi Plastik Indonesia di acara Pullman Hotel Thamrin Tingkat impor produk plastik jadi diantara produk jadi impor industri

Sedangkan pada tahun 2024, nilai impor mencapai $233,15 miliar pada periode Januari-April. Pada periode tersebut, ekspor mencapai 103,47 juta dolar.

Di sisi lain, menurut data yang dipaparkan Eco, kebutuhan plastik di Indonesia terus meningkat. Pertama, plastik untuk keperluan dalam negeri, produksi dalam negeri sebanyak 963.000 ton, disusul kebutuhan sebanyak 605.000 ton, ekspor sebanyak 520.125 ton, dan impor sebanyak 165.333 ton.

Produksi plastik untuk bahan konstruksi sebanyak 67.996 ton, kebutuhan sebanyak 79.363 ton, ekspor sebanyak 5.486 ton, dan impor sebanyak 17.225 ton.

Kemudian plastik untuk kemasan, produksi sekitar 112.532 ton, kebutuhan 116.946 ton, ekspor 2.916 ton, impor lebih dari 7.330 ton. Terakhir, plastik lainnya dengan produksi 67.996 ton, permintaan 79.763 ton, ekspor 5.488 ton, dan impor 17.225 ton.

“Sepertinya total impor kita untuk plastik rumah tangga, bahan bangunan, kemasan dan plastik lainnya lebih banyak dibandingkan ekspor kita,” ujarnya.

Di antara negara asal impor, negara asal impor adalah Tiongkok sebesar 51,9%, disusul Jepang sebesar 8,16%, Malaysia sebesar 6,4%, Thailand sebesar 5,3%, kemudian Korea sebesar 4,31% dan Singapura sebesar 4,21%.

Sementara itu, Indonesia juga mengimpor bahan baku plastik. Menurut Eco, produsen dalam negeri saat ini mampu memenuhi 50-60% dari total kebutuhan nasional bahan baku plastik PE, PP, PS, PVC, dan PET.

Katanya, impor bahan baku plastik didominasi poliolefin, terdiri dari impor polietilen (PE) sebanyak 605 ribu ton dan impor polipropilen (PP) sebanyak 599 ribu ton.

Lebih lanjut Eco mengatakan pemerintah telah mengambil beberapa inisiatif untuk mengembangkan industri plastik di negara tersebut dengan memperkenalkan ekonomi sirkular untuk keberlanjutan. Diantaranya, berbasis industri bahan daur ulang dan daur ulang plastik, dengan menurunkan tarif PPN bagi industri plastik.

Kedua, memberikan insentif keuangan lainnya dengan bobot persentase sesuai kedalaman (9R) ekonomi sirkular, seperti pembobotan TKDN. Ketiga, mendorong akses pasar produk ramah lingkungan melalui pengadaan produk/jasa pemerintah hingga penjualan produk yang digunakan. Industri hijau Keempat, “industri plastik / Mendorong kemudahan finansial bagi industri daur ulang untuk memiliki sertifikasi industri hijau

(schc/hns)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *