Batavia –
Read More : Dokter Ungkap Waktu Terbaik untuk Sahur Biar Nggak Cepat Lapar saat Puasa
Program kedokteran spesialis berbasis rumah sakit (PPDS) diluncurkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah menetapkan sejumlah rumah sakit pendidikan sebagai otoritas utama.
Pada pendaftaran pertama, kementerian menerima 52 siswa yang diperuntukkan bagi putra dan putri setempat. Enam program studi yang ditawarkan di rumah sakit ini: RS Kardiovaskular Harapan Kita: Program Kardiovaskular (10 kuota) Pusat Otak Nasional: Program Neurologi (10 kuota) RS Ortopedi Soeharso: Kurikulum Ortopedi Traumatologi (10 kuota) RS Anak & Ibu Harapan Kita: Program Kesehatan Anak (8 kuota) RS Mata Cicendo: Program Oftalmologi (8 kuota) RS Kanker Dharmais: Program Kanker Radiasi (6 kuota)
Proses pendaftaran dibuka hingga 8 September. Prosesnya sangat panjang dan pembelajaran akan dimulai pada awal tahun 2025.
Tujuan dibukanya RS Yayasan PPDS ini merupakan upaya percepatan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di daerah perbatasan pulau terpencil (DTPK).
Salah satu yang membedakan PPDS berbasis rumah sakit adalah pengaturan biaya hidup (BBH) yang disebut “gaji,” kata Dr Arianti Anaya, Direktur Jenderal Kesehatan Perorangan. Jumlah yang diterimanya berkisar antara Rp5 juta hingga Rp10 juta.
“Jadi kami bekerja sama dengan LPDP untuk memberikan BBH bantuan biaya hidup yang sama persis dengan tiket Rp 5 juta lainnya,” jelasnya saat meresmikan Yayasan PPDS Rumah Sakit di Jakarta Selatan, Senin (12/8); .
“Tapi untuk rumah sakit berbasis, kami merasa perlu adanya pembenahan. Jadi, informasinya, rata-rata sarjana mendapat Rp 7 juta dan dokter spesialis mendapat Rp 10 juta,” jelasnya sambil menunjukkan dari selisih biaya yang dibayarkan oleh orang Indonesia. Kementerian Kesehatan. Saksikan video “Upaya Dokter Selamatkan Nyawa Pendonor Sebelum Kematian Terungkap” (suc/suc)