Jakarta –
Read More : Perjalanan 5 Dekade Nestle Indonesia Berdayakan Peternak Sapi Perah di Jatim
Badan Pangan Nasional (BAPNAS) mengungkap penyebab kenaikan harga cabai merah di pasaran. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Akapi) mengungkapkan, harganya kini naik dari Rp 90.000 menjadi Rp 100.000 per kilogram (kg).
Ketua Bapana, Arif Prastiv mengatakan, mahalnya harga cabai merah membuat hasil panen di beberapa daerah menurun. Untuk itu, pihaknya memberikan solusi dengan membagi beberapa daerah yang produksinya tinggi.
Arif mengatakan dalam acara Festival Pangan Nusantara, “Untuk cabai, tantangan utama produk hortikultura adalah jika hasilnya rendah, maka harganya akan tinggi. Jadi salah satu solusinya adalah dengan memperlancar distribusi dari banyak daerah tempat produksinya. tinggi.” Di Gilora Bang Karno (GBK), Jakarta, Minggu (28/7/2024).
Arif berharap ke depannya beberapa produk berkebun bisa memiliki umur simpan yang lebih lama (life saving). Ia sepakat akan menyelenggarakan produksi cabai bersama mitra, khususnya Kementerian Pertanian (Kemintan).
Dikatakannya: “Lebih tepatnya, produksi lada kami menyelenggarakan bersama Menteri Pertanian, khususnya Dirjen Hortikultura. Babaan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan bersama semua pihak.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian sempat menyatakan pasokan cabai merah justru berkurang dibandingkan bulan lalu. Hal ini disebabkan kekeringan yang terjadi di sejumlah sentra produksi lada sehingga menurunkan hasil panen.
Dikatakannya, “Tugas Kementerian Pertanian mengenai permasalahan tersebut adalah menaikkan harga cabai merah, pada bulan Juli terjadi sedikit penurunan dibandingkan bulan Juni, sehingga tidak dapat dipungkiri pasokan di pasaran saat ini sedang menipis karena produksinya rendah”. Inti Pertiwi Nashawari, Direktur Benih Hortikultura Kementerian Pertanian, pada Rapat Koordinasi Inflasi yang disiarkan YouTube Kementerian Dalam Negeri RI, Selasa (23/7).
Datanya, produksi cabai merah pada Juli 2024 sebanyak 125.036 ton, sedangkan Juni 2024 sebanyak 138.784 ton. Penurunan produksi ini disebabkan oleh kekeringan yang melanda beberapa daerah penghasil lada.
Ia mencatat, wilayah Lamongan tidak akan turun hujan pada Mei hingga Juni 2024, sehingga kondisi pertumbuhan akan rawan kekeringan dengan defisit air hampir 90%. Kondisi serupa juga terjadi di perkebunan di Kabupaten Tuban, Kecamatan Rigel, dan Kecamatan Grabagan yang kondisi tanahnya berkapur. Sekitar 95% perkebunan di wilayah tersebut rusak dan produksi turun dari 4 juta menjadi 3,5 juta ton per hektar (ha).
Sedangkan di Kabupaten Kadiri, perkebunan sudah memasuki tahap akhir panen, namun produksinya juga mengalami penurunan akibat kekeringan yang terjadi sejak Mei 2024. Kementerian Pertanian mengungkapkan 90% tanaman layu akibat serangan jamur. bahkan ada pula yang dirusak oleh petani. (kg/kg)