Jakarta –
Read More : 52 Pendaki Rinjani Masuk Daftar Hitam karena Tak Bawa Turun Sampah
Badan Pangan Nasional mengungkapkan ada beberapa penyebab yang menyebabkan harga bawang merah naik hingga Rp 80.000 per kilogram (Kg). Salah satu penyebabnya adalah rendahnya pasokan karena sentra produksi mengalami gagal panen.
Hal ini disampaikan Deputi Ketersediaan dan Stabilitas Pangan I Gusti Ketut Astawa. Ia mengatakan, karena saat ini sedang musim hujan, produksi bawang merah mengalami kendala.
“Peningkatan ini disebabkan banyak hal, hujan, terbatasnya tenaga kerja, kita kurangi,” ujar Kementerian Dalam Negeri mengutip YouTube dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi yang digelar, Senin (22/4/2024).
Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa pada bulan Maret lalu akibat cuaca ekstrem terjadi banjir di tengah dan kekurangan pangan di pantai Pantura. Banjir tersebut menyebabkan 2.500 hektar lahan puso (gagal panen) dari 7.500 hektar yang terdampak (Brebes, Cirebon, Kendal, Demak, Grobogan, Pati dan lain-lain).
Akibatnya, harga di tingkat produsen pun meningkat; yaitu sebesar Rp 33.840/kg. Hal ini juga sejalan dengan pasokan bawang merah di tingkat grosir PIKJ sebanyak 60 ton, data 17 April 2024, atau turun 38,78% dibandingkan pasokan normal sebanyak 98 ton.
Alasan lainnya termasuk terbatasnya tenaga kerja dan hambatan bagi pemerkosa (perempuan). Selain itu, terjadi gangguan distribusi barang ke pasar sehingga pasokan menjadi tertunda.
Namun, menurut Ketut, tingginya harga bawang merah justru menjadi keuntungan bagi petani. Hal ini disebabkan harga bawang merah di tingkat petani pada bulan Januari, Februari, dan Maret jauh lebih tinggi dibandingkan harga referensi. “Posisi bawang merah di tingkat produsen pada bulan Januari, Februari, Maret jauh di bawah harga acuan. Jauh di bawah Rp 25.000 hingga Rp 30.000/kg,” jelasnya. (kilo/kilo)