Jakarta –

Read More : Temuan Praktik ‘Nakal’ RS ke BPJS Kesehatan: Pasien Bodong sampai Overbilling

Menteri Koordinator Perekonomian Airlanga Hartarto angkat bicara soal kabar Presiden baru terpilih Prabowo Subianto akan menambah utang hingga 50% Produk Domestik Bruto (PDB).

Wacana tersebut sebelumnya pernah diutarakan adik laki-laki Prabowo, Hashim Jojohadikusumo, yang kini tergabung dalam tim gugus tugas sinkronisasi pemerintahan Prabowo-Gibron. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rasio utang Indonesia yang saat ini berada di angka 39%.

“Iya, hanya sekedar wacana (menaikkan rasio utang),” kata Airlangga yang ditemui di Jalan St. Louis. Regis Jakarta, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (7/11/2024).

Airlanga yang juga Ketua Pengurus TKN mengatakan pembahasan pemerintahan baru saat ini tidak membahas persoalan tersebut.

Ia menegaskan, pemerintah saat ini menargetkan rasio utang terhadap PDB kurang dari 40% dan defisit transaksi berjalan atau defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di level 3%.

“Kita bidik di bawah 40% dan defisit transaksi berjalan 3%,” tutupnya.

Sebagai tambahan informasi, media asing awalnya memberitakan pengumuman Hashim mengenai rencana kenaikan rasio utang hingga 50%. Skema ini dikatakan dilaksanakan dengan mempertimbangkan pendanaan program dan tujuan pemerintah.

Seperti dikutip Financial Times, Kamis (7/11/2024) penyesuaian rasio utang ini dilakukan untuk membiayai program ambisius pemerintah, salah satunya pangan bergizi gratis (MBG). Hal ini terbantu dengan meningkatnya penerimaan pajak.

Dalam pernyataannya kepada Financial Times, Hashim mengatakan Indonesia dapat mempertahankan peringkat layak investasi jika rasio utang terhadap PDB naik dari 39% menjadi 50%.

“Idenya adalah untuk meningkatkan pendapatan dan meningkatkan tingkat utang,” kata Hashim di London.

Berdasarkan UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, rasio utang Indonesia terhadap PDB tidak boleh melebihi 60%. Jadi usulan ini masih di bawah ambang batas. Masalah ini juga telah dikonsultasikan dengan Bank Dunia.

“Saya sudah bicara dengan Bank Dunia dan menurut mereka 50% adalah angka yang wajar,” lanjutnya.

Meski demikian, Hashim menegaskan pihaknya tidak akan menaikkan rasio utang tanpa meningkatkan pendapatan. Dalam hal ini adalah pajak, cukai, retribusi pertambangan dan bea masuk. (shc/rd)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *