Batavia –
Read More : Man City Kalah dari Madrid, Ancelotti: The Citizens Main Bagus!
Kota tua Batavia menjadi tujuan wisata populer bagi wisatawan yang berkunjung ke ibu kota. Kawasan tersebut sarat dengan nilai sejarah dari zaman kolonial. Wisatawan seolah diajak menelusuri pengatur waktu yang ada di kawasan tersebut. Bangunan-bangunan tua dan karya seni menarik dari masa lalu dipajang di sini. Wisatawan juga bisa menikmati musik, atraksi, bersepeda, dan kuliner lainnya di warung tradisional. Sebagai kota tujuan pertama, sejarah kota kuno Batavia sangat menarik karena mengandung banyak hikmah dan berharga. Kawasan ini tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik. Semua ini tentang kota tua Batavia
Kota tua Batavia, juga Vetus Batavia (Vetus Batavia) adalah kawasan seluas 1,3 kilometer persegi yang mengelilingi Batavia Utara dan Batavia Barat. Pelaut Eropa menyebutnya sebagai “Permata Asia” dan “Ratu Timur” pada abad ke-16.
Pada tahun 1526 Fatahillah yang diutus Kesultanan Demak menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di bawah kerajaan Hindu Pajajaran.
Setelah mereka berhasil merebut pelabuhan tersebut, Fatahillah menamakannya Jayakarta yang berarti “kemenangan penuh”. Kota ini awalnya hanya seluas 15 hektar dan memiliki kota pelabuhan Jawa kuno dengan suasana sederhana namun penting.
Nasib Jayakarta berubah pada tahun 1619 ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menghancurkan kota tersebut.
Setahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia, untuk menghormati Batavieren, seorang lansia Teutonik. Kota ini terletak di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, yang sekarang menjadi Alun-Alun Fatahillah.
Masyarakat Batavia disebut Batavianen, yang kemudian dikenal dengan suku Betawi. Pada tahun 1635, Batavia meluas hingga ke tepi barat Sungai Ciliwung. Kota ini didesain dengan gaya arsitektur Eropa, lengkap dengan kastil (Kasteel Batavia), tembok kota dan kanal-kanal di sekitarnya. Pada tahun 1650 pembangunan Batavia selesai dan kota ini menjadi markas VOC di India Timur. Namun perlakuan terhadap masyarakat miskin di kota menyebabkan terjadinya berbagai bencana tropis yang akhirnya membuat kanal-kanal terisi.
Setelah bencana tahun 1835 dan 1870, banyak penduduk kota pindah ke selatan menuju tempat yang sekarang disebut Weltevreden (di sekitar Lapangan Merdeka). Belanda kemudian berkembang menjadi pusat administrasi Hindia Belanda Timur.
Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, Batavia berganti nama menjadi Batavia. Pada tahun 1972, Walikota Jakarta Ali Sadikin memutuskan untuk menetapkan kota tua sebagai situs warisan budaya.
Tujuan dari keputusan ini adalah untuk melestarikan dan melestarikan sejarah arsitektur kota, meskipun hanya beberapa bangunan dari masa kolonial Belanda. Kota Tua Batavia terletak di kawasan Taman Sari sebelah barat Batavia. Wisatawan bisa menggunakan berbagai sarana transportasi untuk mencapai Kota Tua, seperti bus Transjakarta, KRL Commuter Line, dan MRT Batavia. Banyak tempat menarik yang bisa pengunjung temukan di sini seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Taman Fatahillah Toko Merah dan lain-lain. Karena bangunannya yang bergaya Belanda, kota tua Batavia juga cocok bagi wisatawan yang mencari spot foto cantik yang bersih. Tersedia rental sepeda untuk menunjang foto penumpang. Ingin berlibur ke Batavia tapi bingung mau ke mana? Kota tua Batavia menjadi destinasi yang sayang untuk dilewatkan. Jangan lupa siapkan kamera dan pakaian terbaikmu! Tonton video “Pengalaman Emosional Anda di Perjalanan Berhantu Kota Tua Menjadikannya Saatnya!” (Wanita / Wanita)