Jakarta –
Donald Trump terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Jelas sekali, Trump dipilih oleh sebagian besar masyarakat di banyak wilayah karena janji Trump untuk menghilangkan dampak kepunahan pangan.
Berdasarkan survei pusat, 96% pemilih menilai makanan, pangan, dan barang sesuai pilihan mereka. Presiden terpilih Donald Trump. Lebih dari 120.000 pemilih terdaftar berpartisipasi dalam survei ini, yang dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober hingga 30 November.
Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi pangan disebabkan oleh beberapa hal seperti anggur cepat saji, anggur, anggur, perang, harga gandum dan lebih mahal.
Pada periode reguler, salah satu dari mereka menepati kembali sebagian janjinya, salah satu dari mereka melewatkan harga pangan. Saat menjabat, Trump menaikkan inflasi pangan selama kampanyenya sebagai presiden pada konferensi pers Agustus lalu. Salah satu cara untuk menghindari harga pangan Trump ingin meningkatkan produktivitas minyak dan gas lokal.
“Harga sembako sudah naik. Kalau saya menang, saya akan segera turunkan harganya. Kami sayang harga semuanya,” ujarnya.
Selain itu, perubahan iklim juga menjadi faktor pendorong harga pangan. Kerugian yang ditanggung petani terus meningkat seiring dengan meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan kondisi cuaca ekstrem, termasuk badai, kekeringan, dan gelombang panas. Selain itu, hal ini berdampak pada kualitas dan kuantitas hasil panen.
Berbicara di depan Klub Ekonomi New York pada bulan September, Trump mengatakan dia akan berinvestasi dalam teknik pertanian baru dan modern sehingga kita dapat memperoleh pangan yang aman, sehat, dan berkualitas tinggi.
“Keluarga kita bisa berinvestasi pada pangan yang aman, sehat, dan berkualitas tinggi, kita akan berinvestasi pada teknik pertanian yang baru dan modern,” kata Tamp. (RRD/RRD)